<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Being Persistence &#187; Featured</title>
	<atom:link href="http://www.beingpersistence.com/category/featured/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.beingpersistence.com</link>
	<description>what life is all about</description>
	<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 11:01:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Bedol Desa</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2009/10/10/bedol-desa/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2009/10/10/bedol-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 11:01:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya&#8230;terjadi juga&#8230;
Setelah berbulan - bulan tidak mampu meluangkan pikiran untuk menulis, akhirnya di sore yang sedikit mendung ini, hati ini mendapatkan kesempatannya. Tidak lain dorongan emosi yang begitu besar yang membuat saya merasa harus meluangkan waktu untuk sedikit berbagi jika tidak ingin perasaan ini meraung meluap - meluap.
Rasanya baru 2 tahun yang lalu saya dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya&#8230;terjadi juga&#8230;</p>
<p>Setelah berbulan - bulan tidak mampu meluangkan pikiran untuk menulis, akhirnya di sore yang sedikit mendung ini, hati ini mendapatkan kesempatannya. Tidak lain dorongan emosi yang begitu besar yang membuat saya merasa harus meluangkan waktu untuk sedikit berbagi jika tidak ingin perasaan ini meraung meluap - meluap.</p>
<p>Rasanya baru 2 tahun yang lalu saya dan suami mengalami sakit kepala karena bingung mencari dana pinjaman untuk memperbaiki garasi rumah orang tua yang kondisinya cukup memprihatinkan. Kamar tempat kami bekerja dirumah orang tua, sudah tidak mampu lagi menyembunyikan teriakan dan tangisan putri putri kami yang semakin keras. Puji syukur semua itu sudah terlewati&#8230;perlahan tapi pasti, garasi mulai tampak lebih cantik, bahkan menjadi tempat bekerja yang sangat nyaman.</p>
<p>Kira - kira 1 bulan yang lalu, saya dan suami bersepakat kalau garasi cantik kami saat ini sudah tidak cukup lagi untuk tempat kami bekerja dengan nyaman. Keterlibatan beberapa teman yang bekerja bersama - sama dengan kami, barang - barang yang menumpuk hampir disemua sudut, nyaris tidak ada lagi privasi. Segala sesuatu dipakai bersama. Terkadang kepenatan pekerjaan yang memang sudah menumpuk, tumpah dalam bentuk pergesekan diantara kami. Kami memutuskan mulai mencari rumah kontrakan untuk tempat bekerja yang baru.</p>
<p>Alasan lain yang tidak kalah penting, adalah bahwa biar bagaimanapun, Ayah saya yang cinta mancing dan memasak itu&#8230;rasanya sudah tidak tahan ingin membuka warung soto betawinya lagi. Dulu memang garasi itu pernah menjadi warung soto betawi Ayah, namun ketika pembantu yang biasa menunggu warungnya pulang kampung, sementara Ayah juga masih sibuk dengan urusan - urusan lainnya, ia mengalah dan membiarkan saya memakai garasinya. Satu - satunya tempat dimana ia bisa berkuasa penuh&#8230;(mengingat rumah, tv, bahkan tempat tidurnya, sudah takluk dibawah pemerintahan cucu - cucunya).. ia serahkan untuk mendukung usaha anak pertamanya.</p>
<p>Demikianlah akhirnya kami menemukan rumah yang dikontrakan di daerah Kayu Mas. Harga yang untungnya masih terjangkau&#8230;(terima kasih atas bantuan dari Pak Lubis)&#8230;Ruang yang cukup untuk kami bisa bernafas lega dan menjawab telepon tanpa takut suara kami berkumandang sehingga mengganggu konsentrasi rekan kerja&#8230;dan yang terpenting, mudah - mudahan menjadi satu langkah maju dalam memperbaiki dan mengembangkan usaha kami.</p>
<p>Apakah saya masih pusing? Sudah pasti&#8230;biaya perbaikan rumah yang melar melor kemana - mana&#8230;waktu pindahan yang bersamaan dengan <em>deadline </em>pekerjaan, ketersediaan dana yang terbatas&#8230;rasa khawatir terhadap kemungkinan harus bersosialisasi ditempat baru&#8230;ketakutan apakah nanti akan banjir..(kebetulan rumahnya diwilayah rawan banjir&#8230;.&#8221;pantesan murah!&#8221;&#8230;&#8230;peace ibu kontrakan!!!)  belum lagi bias - bias perasaan nostalgia ketika saya kembali ke garasi dan mulai mengepak barang - barang.</p>
<p>Rasanya hampir meledak dada ini&#8230;Ya takut, ya khawatir, ya bersyukur&#8230;</p>
<p>Dan lahirlah tulisan ini. Dari semua perasaan diatas&#8230;rasanya tulisan ini perlu ditutup dengan perasaan yang paling penting&#8230;yaitu bersyukur pada Tuhan yang menjadikan segala sesuatunya mungkin.</p>
<p>Setidaknya semua hiruk pikuk pindahan ini sudah mendorong saya untuk menulis lagi di rumah maya ini! :)</p>
<p>Terima kasih untuk semua sahabat yang mungkin menyempatkan mampir saat saya tidak ada dirumah&#8230;untuk Bu Dyah karena masih ingat saya ditengah kesibukannya yang begitu penuh&#8230;</p>
<p>Mohon maaf saya pamit dulu&#8230;Ayah saya bertanya apakah lemarinya akan ikut saya bawa ke <em>kantor</em> baru nanti&#8230;rasanya itu harus segera saya jawab! :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2009/10/10/bedol-desa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kampanye</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2009/03/25/kampanye/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2009/03/25/kampanye/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 11:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[Saya bersyukur, pengurus Rw dilingkungan saya cukup tegas dalam mengambil sikap menghadapi kondisi kampanye menjelang Pemilu 2009. Tidak ada satupun poster, baliho, sticker atau bentuk - bentuk kampanye lainnya dalam lingkungan rumah kami. Hal ini bukan baru terjadi pada Pemilu ini, tetapi sejak puluhan tahun yang lalu. Ketika ayah saya dan teman - teman seangkatannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bersyukur, pengurus Rw dilingkungan saya cukup tegas dalam mengambil sikap menghadapi kondisi kampanye menjelang Pemilu 2009. Tidak ada satupun poster, baliho, sticker atau bentuk - bentuk kampanye lainnya dalam lingkungan rumah kami. Hal ini bukan baru terjadi pada Pemilu ini, tetapi sejak puluhan tahun yang lalu. Ketika ayah saya dan teman - teman seangkatannya mulai aktif sebagai pengurus Rt/Rw, tidak ada bentuk kampanye tulisan diperbolehkan masuk kedalam lingkungan Rw kami. Alasannya sederhana; ketika masa kampanye telah selesai, tidak pernah ada yang kembali untuk membersihkan atribut - atribut kampanye mereka.</p>
<p>Coba bayangkan&#8230;ribuan spanduk, poster, baliho, sticker, yang saat ini bertebaran diseluruh penjuru negeri&#8230;siapa yang nanti akan membersihkannya? kemana semua sampah itu nanti akan menumpuk? Itu baru efek yang terlihat. Mari kita pikirkan lagi efek yang tidak terlihat; ribuan meter kain, kertas, plastik, tinta&#8230;semua elemen yang menghabiskan sumber - sumber daya alam, menciptakan polusi dan menghasilkan sampah&#8230;digunakan secara sia - sia belaka. Dipajang selama beberapa minggu, dan kemudian lenyap dan dilupakan orang.</p>
<p>Isi dari bentuk kampanye tertulisnya, lebih menyakitkan mata dan hati. Semua menampilkan slogan - slogan kosong, foto - foto tanpa makna, dan janji - janji yang diumbar disana sini. Dengan berani menampilkan pribadi yang seakan suci tanpa cacat. Ada pula yang menyindir dan menjelekan yang lain&#8230;Belum dipilih sudah memperlihatkan kotornya hati dan pikiran. Tak jarang pula membawa - bawa nama Sang Khalik ataupun atribut keagamaan, seakan jika memilih si partai atau calegnya, berarti telah menjalani keinginan Yang Kuasa.</p>
<p>Saya bukan apatis terhadap Pemilu. Saya tidak pernah absen memilih, karena menurut saya, (apalagi disaat sekarang ini) memilih lebih merupakan tanggung jawab kita selaku warga negara dibanding sebagai hak. Yang saya khawatirkan adalah raibnya rasa nasionalisme dibangsa ini. Rasa cinta terhadap bumi pertiwi dan rakyatnya, seakan pudar ditelan warna warni egoisme partai dan para calegnya.</p>
<p>Kemana kesadaran partai dan para caleg tentang dampak kampanye mereka yang begitu ribut membahana? Pernahkan terpikirkan cara - cara lain yang lebih santun dan berguna bagi masyarakat untuk memperkenalkan diri? Tidak ada lagikah pribadi yang berniat ikhlas dan tulus dalam memberikan waktu dan tenaga untuk bangsanya? Kemana mereka semua selama ini? Berapa banyak diantara mereka yang aktif di kepengurusan lingkungan rumahnya, turut serta melakukan siskamling, aktif di Karang Tarunanya?</p>
<p>Ketika kemarin saya harus mengurus keluarga, keluar masuk daerah Bekasi, Cimanggis dan Depok, tak urung saya bersenandung&#8230;</p>
<p>Indonesia tanah air beta&#8230;</p>
<p>Pusaka abadi nan jaya&#8230;</p>
<p>Indonesia sejak dulu kala&#8230;</p>
<p>Tetap dipuja - puja bangsa&#8230;</p>
<p>dan air matapun menggenang, tak kuasa menahan sesak didalam dada&#8230;</p>
<p>ya Tuhan, biarkanlah anugerahMu turun untuk bangsa ini&#8230; untuk pemimpin - pemimpinnya, untuk rakyatnya, untuk pekerja - pekerjanya, untuk wanita - wanitanya, untuk petani dan nelayannya&#8230;biarkanlah mereka yang memilih, melakukannya dengan kesadaran penuh bertanggung jawab, dan yang terpilih diberikan hati yang lapang, jiwa yang besar, dan kekuatan dari Yang Ilahi untuk memperjuangkan masa depan bangsa ini dengan ikhlas&#8230;&#8230;&#8230;.amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2009/03/25/kampanye/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Juni dan Nabila</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2009/03/25/juni-dan-nabila/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2009/03/25/juni-dan-nabila/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 18:43:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Notes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[Sepupu saya yang usianya 25 tahun, tutup usia 2 minggu yang lalu setelah terbaring koma selama hampir 2 minggu di RS. Cikini - Jakarta.
Sejak keluar dari rumah sakit untuk pertama kalinya setelah divonis gagal ginjal sekitar bulan april - mei 2008, Junius Andrina Bellany, tinggal bersama kami sekeluarga dirumah. Karakteristiknya yang pendiam dan tertutup sempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepupu saya yang usianya 25 tahun, tutup usia 2 minggu yang lalu setelah terbaring koma selama hampir 2 minggu di RS. Cikini - Jakarta.</p>
<p>Sejak keluar dari rumah sakit untuk pertama kalinya setelah divonis gagal ginjal sekitar bulan april - mei 2008, Junius Andrina Bellany, tinggal bersama kami sekeluarga dirumah. Karakteristiknya yang pendiam dan tertutup sempat terlihat berubah khususnya menjelang akhir tahun 2008 yang lalu. Ia mulai sering ngobrol, dan penuh perhatian terhadap anak - anak saya yang memang menjadi tim penghibur di rumah. Namun demikian, ternyata ia tetap tidak mau menceritakan banyak hal - hal penting yang menurutnya dapat merepotkan keluarga.</p>
<p>Ketika saya dan suami menemukan ia menangis dirumah dalam dekapan pacarnya, kami baru tau bahwa ternyata dia sudah harus ganti alat cuci darah yang terpasang ditubuhnya sejak beberapa minggu sebelumnya. Kami juga baru tau bahwa beberapa hari terakhir ternyata ia sudah merasa sesak dan seharusnya segera menjalani proses cuci darah. Ia merahasiakan fakta - fakta tersebut karena selain kondisi tidak punya uang untuk menjalani operasi ganti alat, ia juga tidak mau merepotkan keluarga.</p>
<p>Ketika akhirnya ia masuk ke rumah sakit dalam kondisi yang kritis, keluhan terakhirnya mengungkapkan bagaimana ia kecewa terhadap ibunya yang tidak berada disisinya saat itu. 3 hari kemudian saat menjalani operasi pergantian alat cuci darah, tekanan darahnya mencapai 250 dan iapun jatuh dalam koma.</p>
<p>Saat menunggu di rumah sakit, saya mengungkapkan kecurigaan saya yang merasa bahwa semangatnya terus turun setelah mendengar kabar bahwa ibunya, seorang tkw di Riyadh, tidak dapat pulang sesuai waktu yang dijanjikan karena alasan kontrak dan administrasi. Kecurigaan itu dikonfirmasi oleh kakak dan kakak iparnya yang menceritakan bagaimana Juni sempat datang kerumah mereka untuk <em>curhat</em> mengenai kekecewaan terhadap ibunya yang tidak dapat pulang tepat waktu.</p>
<p>Saat koma, ibunya sudah diminta untuk mengurus kepulangan ke Indonesia. Apa daya, sampai Juni dikuburkan, ibunya tetap tidak mendapatkan izin kembali pulang ke Indonesia. Ia diminta untuk menyelesaikan kontrak kerja sampai agustus, atau membayar sekitar 25 ribu real jika tetap memaksakan dipulangkan pada saat itu.</p>
<p>2 hari yang lalu, sepupu suami saya yang baru berusia 2 tahun 8 bulan, juga menghembuskan nafas terakhirnya.</p>
<p>Nabila memang sempat beberapa kali masuk rumah sakit karena gagal ginjal, namun hari itu tidak ada tanda - tanda kesakitan yang mencurigakan. Paginya ia sempat makan bersama bundanya meskipun sedikit manja dan melarang bundanya mandi. Tak lama ia mengeluh sakit perut, dan pingsan ketika digendong oleh ayahnya. Ia dibawa ke rumah sakit terdekat di Bekasi, namun dirujuk ke Cipto Mangunkusumo. Dalam perjalanan yang sangat macet menuju RS Cipto, ia meninggal di tengah perjalanan.</p>
<p>Teman - teman blogger&#8230;</p>
<p>Betapa kecilnya kita sebagai manusia&#8230;</p>
<p>Kita mungkin punya uang, tapi kehilangan kesempatan.</p>
<p>Kita mungkin punya kesempatan, tapi tidak punya uang untuk mewujudkan harapan.</p>
<p>Sebagai orang tua, kita mengupayakan segalanya untuk anak - anak kita&#8230;tapi apakah pengorbanan kita menyediakan sungguh kualitas - kualitas kehidupan terbaik untuk mereka?</p>
<p>Sebagai anak, kadang kita merasa kita mampu berdiri sendiri, berjalan sendiri dan tidak lagi bersandar pada orang tua kita&#8230;tapi apakah kemandirian kita menjadikan kita lupa terhadap jasa dan cinta mereka?</p>
<p>dan saat mereka yang kita cinta, harus pergi menghadap Sang Khalik&#8230;</p>
<p>ikhlaskah kita dalam segala pikir, ucap dan laku?</p>
<p>Dalam kegalauan, saya membisikan doa&#8230;permohonan maaf kalau selaku orang tua tidak sempurna, permohonan maaf kalau selaku anak tidak berbakti, permohonan maaf kalau selaku pribadi tidak simpati.</p>
<p>Dan memohon dengan segala kerendahan hati&#8230;kiranya Yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi mengizinkan saya dan keluarga saya, dalam kehidupan ini, menempuh jalan yang benar dalam memberikan yang terbaik bagi orang - orang yang telah dianugerahkan pada kami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2009/03/25/juni-dan-nabila/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Cinta</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2009/02/24/tentang-cinta/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2009/02/24/tentang-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 13:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Saya memandang diri saya sebagai orang yang beruntung. Saya bersyukur karena saya diberikan kesempatan untuk dicintai sepanjang hidup saya, dan mencintai&#8230;mudah - mudahan sampai akhir hidup saya.
Saya merasa dicintai oleh kedua orang tua saya, meskipun dalam banyak kasus saya merasa orang tua saya, khususnya Ibu saya, memilih untuk &#8216;lebih&#8217; mencintai (satu -satunya) adik saya. Apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya memandang diri saya sebagai orang yang beruntung. Saya bersyukur karena saya diberikan kesempatan untuk dicintai sepanjang hidup saya, dan mencintai&#8230;mudah - mudahan sampai akhir hidup saya.</p>
<p>Saya merasa dicintai oleh kedua orang tua saya, meskipun dalam banyak kasus saya merasa orang tua saya, khususnya Ibu saya, memilih untuk &#8216;lebih&#8217; mencintai (satu -satunya) adik saya. Apakah saya sedih? Tentu saja! (Meskipun saya menyadari bahwa mungkin ini hanyalah perasaan saya saja, dan bahwa sebenarnya ayah dan ibu saya mencintai kami berdua apa adanya, sama besarnya).Tetapi setelah saya menjadi seorang Ibu, saya melihatnya sebagai suatu pelajaran yang harus saya alami supaya saya, dengan segala kemampuan yang saya miliki, dapat mencegah kejadian serupa terjadi pada anak - anak saya.</p>
<p>Untuk banyak orang, cinta mungkin terlihat &#8216;luxurious&#8217;, jadi saya bersyukur kalau sampai saat ini saya melihat cinta sebagai suatu kemampuan yang secara alami saya (dan saya percaya : setiap manusia) miliki.</p>
<p>Perasaan cinta mungkin dapat tercipta ketika orang - orang disekitar kita melakukan tindakan - tindakan cinta untuk kita; pelukan hangat anak - anak, ciuman mesra suami, surat cinta dari kekasih, hadiah dari sahabat&#8230;.tapi sebenarnya semua itu adalah keputusan kita. Kitalah yang memutuskan untuk melihat semua tindakan itu sebagai suatu bentuk tindakan cinta.</p>
<p>Contohnya begini; Jika seseorang yang karena suatu hal telah lama tidak kita sukai, juga visa versa membenci kita, tiba - tiba mengirimkan surat permintaan maaf, kesan apa yang muncul dalam pikiran dan perasaan kita pertama kali? Mungkin kita malah curiga, atau juga bingung&#8230;mungkin juga malah tersinggung. Kita bisa saja melihatnya sebagai banyak hal negatif&#8230;tetapi kita juga punya pilihan untuk melihatnya sebagai suatu bentuk cinta&#8230;dan bagaimana kita membalasnya&#8230;itu murni pilihan kita. Dan itu semua terulang kembali ketika orang yang telah kita maafkan misalnya, mengulangi kembali kesalahan atau kejadian yang tidak kita inginkan. Saat itu terjadi, kita kembali berhadapan pada pilihan untuk melihat tindakan itu sebagai suatu akhir dari hubungan atau suatu kesempatan untuk memberikan cinta lagi.</p>
<p>Jadi bahkan, ketika saya tidak merasa dicintai&#8230;seperti yang saya rasakan dalam hubungannya dengan adik saya, saya dapat memilih untuk tetap mencintai dia. Saya dapat bersikap untuk tidak peduli dan tidak lagi mau tahu, tetapi saya sadar, dengan demikian sayalah yang memutuskan benang cinta diantara kami.</p>
<p>Saya berkali kali merasa kecewa&#8230;berkali kali merasa tertipu&#8230;berkali kali merasa kalah&#8230;berkali kali merasa marah&#8230;tapi saya akan terus berjuang untuk mempertahankan benang itu. Bahkan ketika rasa percaya nyaris tidak lagi ada&#8230;saya mau tetap percaya, bahwa kemampuan cinta itu sepenuhnya anugerah Tuhan untuk saya. Dan karenanya saya punya kekuatan, untuk mencintai seorang wanita dewasa yang mandiri, seorang pribadi yang bertolak belakang dengan saya pada hampir semua sifatnya&#8230;&#8230;,seorang adik&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; whatever it takes&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Saat ini saya bersyukur karena saya merasa dicintai oleh suami dan anak - anak saya. Melalui mereka, saya merasakan cinta Tuhan untuk saya. Seringkali kondisi - kondisi kehidupan memaksa kita untuk &#8216;hidup dengan keras&#8217;&#8230;tergopoh - gopoh mencari pekerjaan, kemudian tergesa - gesa mencoba menyelesaikan tanggung jawab, dan ketika hasil yang dicapai ternyata kurang cukup untuk mencapai harapan - harapan kita, kita terkejut&#8230;.lalu tersadar, betapa lelahnya tubuh dan pikiran kita, semuanya untuk mengejar banyak hal yang sepertinya sia - sia. Setidaknya itulah yang saya rasakan beberapa minggu terakhir ini.</p>
<p>Bersyukurlah saya, bahwa kelelahan saya mendapat hiburan berupa celoteh manis kedua putri saya, dan bahwa suami saya tidak mengajukan deretan pertanyaan yang penuh tuntutan. Malam ini, saya bersyukur, karena saya merasa dicintai&#8230;apapun yang terjadi dalam sisi kehidupan saya yang lain&#8230;berhasil ataupun gagal, menang ataupun kalah, cinta mereka selalu ada, setidaknya selama saya terus percaya bahwa saya juga memiliki cukup kekuatan  cinta untuk mereka semua.</p>
<p>O, ya&#8230;semua kalimat &#8216;klise&#8217; tentang cinta itu benar&#8230;bahwa cinta butuh pengorbanan, bahwa cinta itu pedang bermata dua, bahwa cinta itu anugerah, bahwa cinta tak harus memiliki&#8230;.dan sejuta cerita tentang cinta lainnya&#8230;.., yang seringkali tidak diceritakan, adalah bahwa kitalah yang harus memilih cinta mana yang akan kita jalani.</p>
<p>Ada cinta yang menghancurkan&#8230;ada cinta yang membangun. Ada cinta yang merusak&#8230;ada cinta yang mendidik. Ada cinta yang mematikan&#8230;ada cinta yang menghidupkan. Ada cinta yang menghardik dan memaki&#8230;ada cinta yang menyimpan rapat semuanya dalam hati. Ada cinta yang hanya mengambil&#8230;ada cinta yang hanya memberi. Ada cinta yang tidak disadari&#8230;ada cinta yang selalu disyukuri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2009/02/24/tentang-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Sahabat - III</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2009/02/22/tentang-sahabat-iii/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2009/02/22/tentang-sahabat-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 12:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah cerita tentang dunia tari dan sahabat - sahabat yang saya temui didalamnya.
Ibu saya mengikut sertakan saya dalam sanggar tari daerah dekat rumah sejak saya berusia 3 tahun. Ia kemudian melihat bahwa saya secara khusus sangat menyukai tari bali, sehingga akhirnya saya dipindahkan ke sanggar khusus tari bali. Sanggar Aditya Warman asuhan Ibu Dayu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah cerita tentang dunia tari dan sahabat - sahabat yang saya temui didalamnya.</p>
<p>Ibu saya mengikut sertakan saya dalam sanggar tari daerah dekat rumah sejak saya berusia 3 tahun. Ia kemudian melihat bahwa saya secara khusus sangat menyukai tari bali, sehingga akhirnya saya dipindahkan ke sanggar khusus tari bali. Sanggar Aditya Warman asuhan Ibu Dayu, berada di Pura dekat rumah kami. Di sanggar inilah dasar - dasar gerakan tari saya dibentuk.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/3.jpg"><img class="size-medium wp-image-364 aligncenter" title="Tarian favorit saya, Oleg tambulilingan dan Tarunajaya" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/3.jpg" alt="" width="300" height="235" /></a></p>
<p>ketika duduk di SMP saya pindah sanggar ke Widya Budaya, asuhan Bp. Agus Perbawa dan Ibu Sukarni (saat itu di jalan Veteran, Jakarta Pusat) karena sanggar lama di tutup oleh pihak Pura. Sanggar ini merupakan sanggar yang lebih besar dan bisa dikatakan masuk dalam tataran profesional karena pentas yang dilakukan sudah bersifat komersial. Meskipun inti pelatihan tetap tarian Bali, tapi kami juga wajib menguasai beberapa tarian daerah lain yang harus sering dipentaskan seperti tarian Aceh, tarian Sunda, Betawi dan Padang. Latihan tari dilakukan pada malam hari, 2 kali seminggu, sementara ada pementasan hampir setiap minggu.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/1.jpg"><img class="size-medium wp-image-362 aligncenter" title="Sebelum pementasan Ronggeng dan Menarikan Bedoyo untuk pesta pernikahan" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/1-300x87.jpg" alt="" width="300" height="87" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/pon.jpg"><img class="size-medium wp-image-367 aligncenter" title="Berfoto bersama sebelum pembukaan PON di Istora Senayan" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/pon.jpg" alt="" width="300" height="192" /></a></p>
<p>Inilah sahabat - sahabat saya di sanggar ini; Ada Iva, anak kolong yang waktu SMA dulu nakal sekali sampai 3 kali pindah sekolah!hi&#8230;(yang penting sekarang kan sudah jadi Ibu yang manis yah va!), ada Dyah, Lia, Vera, Nita. Ada Tanti yang notabene adalah tetangga depan rumah saya juga, ada Dayu Reti dan Dayu Sanis, kakak beradik cantik yang asli orang Bali, Nanet dengan rambutnya yang super panjang sehingga kalau pentas tidak perlu rambut palsu lagi, Iin dengan lesung pipit yang super dalam, Lavi yang kurus dan kalem sekali, Sari yang ceplas ceplos, dan Poppy dengan rambut keritingnya yang khas.</p>
<p>Dari panggung kecil dengan alas papan kayu yang seratnya keluar sehingga melukai kaki (pementasan di acara 17 agustusan RT/RW), sampai panggung terang benderang di berbagai convention centre dan gedung pertemuan&#8230;dari lantai aspal yang panas di lapangan terbang (sewaktu menyambut tamu negara dalam acara KTT Non blok tahun 1992) sampai pementasan di Istana Negara&#8230;dan tentu saja, pengalaman seru ketika pentas di Nagoya dan Kolombo&#8230;semuanya saya lewati bersama sahabat - sahabat saya tersebut.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/4.jpg"><img class="size-medium wp-image-365 aligncenter" title="Seragam Batik, Rampai Aceh On Stage di Nagoya dan Tari Piring yang diulas salah satu Harian Ibukota" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/4-300x194.jpg" alt="" width="300" height="194" /></a></p>
<p>Berbagai kesulitan menjelang pentas; ketinggalan atribut pakaian, salah bawa kostum, salah pasang konde,&#8230;sampai masalah diatas panggung; lupa gerakan, salah posisi, anting nyangkut di selendang, kain terinjak teman, atribut ada yang lepas, kipas salah warna, soundsistem mati ditengah tarian&#8230;.semuanya membuat kami semakin dekat dan kompak&#8230;saling membantu dan menutupi, yang terpenting pentas berlangsung lancar dan memukau para penonton.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/2.jpg"><img class="size-medium wp-image-366 aligncenter" title="Sesudah pementasan di Kolombo, Srilanka - Sanis,Tanti, Imelda, Nadin, Sari, Ibu Karni, Dyah, Iva (yang pakai topi), Vera, Reti, Poppy, Cinde" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/2-300x291.jpg" alt="" width="300" height="291" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/margareth-tatcher.jpg"><img class="size-medium wp-image-368 aligncenter" title="Sebelum pentas untuk menyambut PM Inggris Ibu Margareth Thatcher dalam salah satu kunjungan ke Jakarta" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/margareth-tatcher-300x141.jpg" alt="" width="300" height="141" /></a></p>
<p>Jangan salah&#8230;seperti bidang - bidang lainnya, dunia tari juga memiliki tingkat persaingan tinggi dan ketat. Jika tidak mampu menghafal gerakan dengan cepat, melakukan banyak kesalahan saat pementasan, sering tidak ikut latihan, dan tidak mampu menjaga berat badan ideal, jangan terlalu berharap akan sering diikut sertakan dalam pentas.</p>
<p>Namun semuanya terasa terbayar sudah ketika tepuk tangan penonton menggemuruh. Kerja keras berupa latihan bertahun tahun, terproyeksi dalam pentas sepanjang 3 sampai 5  menit diatas panggung&#8230;dalam waktu yang singkat itu kami menyatukan jiwa kami dalam gerakan dan alunan musik.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/metallica.jpg"><img class="size-medium wp-image-377 aligncenter" title="Para anggota group band Metallica saat menonton pementasan kami, di halaman rumah Setiawan Djody...yang pakai baret hitam Kirk Hammet, Lars Ulrich, Jason dan yang paling kanan yang empunya hajat." src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/metallica.jpg" alt="" width="300" height="196" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/baris.jpg"><img class="size-medium wp-image-369 aligncenter" title="Sebelum digambar kumisnya dalam Baris Pamungkas" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/baris.jpg" alt="" width="300" height="264" /></a></p>
<p>Sudah 3 tahun berlalu sejak terakhir saya menari panggung profesional&#8230;dan sekian tahun sejak menari bersama - sama sahabat sahabat yang saya sebutkan diatas. Betapa saya merindukan ruang - ruang rias dan tempat ganti kostum dibelakang panggung&#8230;lampu sorot yang panas menyilaukan, suara gamelan membahana, dan tentu saja, gelak tawa lepas bersama sahabat - sahabat saat menikmati nasi bungkus dan air minum kemasan!</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/lampung.jpg"><img class="size-medium wp-image-370 aligncenter" title="Diatas kapal feri dalam perjalanan untuk pentas di Bandar Lampung; Dayu Sanis, Tanti, Nadin, Dayu Reti" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/lampung.jpg" alt="" width="300" height="229" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2009/02/22/tentang-sahabat-iii/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis manis sulit menjadi kaya</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2009/01/11/gadis-manis-sulit-menjadi-kaya/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2009/01/11/gadis-manis-sulit-menjadi-kaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 07:52:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Nice Girls Don&#8217;t Get Rich - 75 Kesalahan Perempuan dalam Mengelola Uang, oleh Lois P. Frankel, Ph.D, adalah sebuah buku yang saya beli karena saya sebal dimarahi dan terus menerus disebut - sebut sebagai &#8216;The Big Spender&#8217; oleh suami saya (Saya kan seorang Istri! Seorang Ibu! Saya memang diciptakan untuk menghabiskan uang bukan?!). Saya lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nice Girls Don&#8217;t Get Rich - 75 Kesalahan Perempuan dalam Mengelola Uang, oleh Lois P. Frankel, Ph.D, adalah sebuah buku yang saya beli karena saya sebal dimarahi dan terus menerus disebut - sebut sebagai &#8216;The Big Spender&#8217; oleh suami saya (Saya kan seorang Istri! Seorang Ibu! Saya memang diciptakan untuk menghabiskan uang bukan?!). Saya lebih sebal lagi karena menurut saya, saya juga turut memberikan kontribusi bagi kondisi keuangan negara..maksud saya keluarga. Saya juga bekerja, dan hasil yang saya dapatkan juga saya pakai untuk pengeluaran keluarga. Saya bahkan tidak memiliki tabungan pribadi karena semua yang saya dapatkan pasti saya pakai untuk keperluan keluarga. Jadi saya sebal. Dan dalam kesebalan itu, saya belilah buku ini. Saya pikir saya dapat menemukan jawaban yang bisa meng&#8217;counter&#8217; tuduhan suami saya dan pada akhirnya memberikan dukungan bagi saya untuk melanjutkan gaya hidup saya apa adanya.</p>
<p>Salah. Saya salah beli buku maksudnya. Setelah hampir 8 bulan lamanya berputar antara meja kerja, meja kamar tidur, terselip di sela tempat tidur, lalu kembali lagi ke meja kerja, akhirnya&#8230;saya berhasil menyelesaikan membacanya&#8230;untuk apa? Untuk menemukan bahwa cara pikir saya selama ini bukanlah cara pikir yang baik&#8230;dan malah memberikan alasan yang jelas kenapa orang seperti suami saya &#8216;terganggu&#8217; dengan cara saya membelanjakan uang.</p>
<p>Buku ini memang secara khusus dibuat untuk wanita di Amerika. Terdapat banyak link sebagai sumber data dan tips - tips berkaitan dengan peraturan perekonomian dan perpajakan di Amerika yang memberikan kemudahan bagi para wanita untuk mencari informasi dan menambah wawasan di bidang ekonomi. Namun bukan berarti kita tidak dapat mengambil prinsip - prinsip dasar yang dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari - hari sebagai wanita Indonesia.</p>
<p>Saya bukan orang finance. Nilai akuntansi saya maksimal 7 dari SMP sampai SMA. Kalau menghitung, tidak PD kalau tidak pakai kalkulator, (bahkan perkalian sederhana sekalipun!hi&#8230;) Saya juga tidak bermaksud men&#8217;summary&#8217;kan isi buku ini. Tetapi saya ingin berbagi &#8216;ilmu&#8217; yang saya dapatkan dari buku ini. Saya harap apa yang saya sharingkan ini, sekecil apapun, dapat berguna bagi teman - teman blogger..khususnya para wanita Indonesia!</p>
<p>1. Saya seringkali merasa bersalah kalau berbelanja hanya untuk keperluan pribadi, contoh mudah misalnya ke salon. Untuk meng&#8217;hindari&#8217; rasa bersalah itu, setelah dari salon biasanya saya kemudian membelikan orang lain (suami, anak, orang tua) sesuatu. Memberikan sesuatu untuk orang yang kita cintai sama sekali tidak salah. Tetapi jika membelikan sesuatu untuk menghindari rasa bersalah adalah hal yang perlu kita waspadai. Sekarang saya sadar bahwa saya tidak perlu merasa bersalah membelanjakan uang untuk keperluan saya pribadi, selama itu adalah sesuatu yang saya butuhkan, saya inginkan dan bermanfaat untuk saya. Dengan cara pandang ini, saya menjadi lebih terencana dalam membelanjakan uang untuk keperluan pribadi karena biar bagaimanapun juga saya tidak dapat membahagiakan orang lain kalau saya tidak merasa bahagia, dan yang pasti saya tidak lagi membeli barang - barang yang tidak penting hanya karena ingin memendam perasaan bersalah.</p>
<p>2. Saya menyadari bahwa ternyata sebenarnya saya ini bisa disebut pemalas. Saya malas mencatat pemasukan, apalagi pengeluaran&#8230;saya malas menyisihkan waktu untuk merencanakan keuangan keluarga. Buku ini memperlihatkan bagaimana kemalasan itu membuahkan begitu banyak penyesalan&#8230;pengeluaran yang tidak terkontrol..kesia - siaan waktu dan uang&#8230;dan yang lebih menyedihkan, hilangnya kesempatan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Saya sudah memulai langkah memperbaiki diri dengan menetapkan anggaran pengeluaran. Jika bukan karena hal - hal yang sangat penting dan mendesak, anggaran pengeluaran adalah angka maksimal yang boleh dikeluarkan dari kantong. Mudah? Tentu saja tidak. Selalu ada alasan. Tapi setidaknya dampak positifnya sudah mulai terlihat. Saya segera menyadari pos - pos pengeluaran yang terlalu besar dan melakukan penghematan diberbagai tempat. Melakukan disiplin dengan merencanakan pembelian keperluan pribadi. Contoh gampangnya adalah membeli sepatu dan tas kerja maksimal 1 kali setahun! Terlihat sepele? he&#8230;.ayo, saya tantang untuk mencoba!</p>
<p>3.Perempuan harus selalu siap belajar. Ini pemikiran penting yang menginspirasi saya dari buku ini&#8230;namun sayangnya belum sempat saya lakukan sampai sekarang&#8230;belajar tidak hanya mengatur pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga hal - hal penting terkait dengan keuangan masa depan: tabungan, investasi, &#8230;.yang lebih &#8216;mengerikan&#8217;; pajak. Mungkin saat ini pemerintah Indonesia belum menerapkan peraturan pajak sedemikian sampai setiap keluarga harus mengurus dan melaporan laporan pajak tahunannya sendiri, tapi hal itu tentu akan terwujud di masa mendatang. Keengganan belajar tidak saja mendatangkan kebodohan, tetapi juga kerugian. Buku ini menceritakan banyak kasus mengenai hal tersebut. Saya juga salah satu orang yang hanya berniat menabung&#8230;.(he&#8230;.sampai sekaranpun masih niat&#8230;.wekekekeeee&#8230;), tapi buku ini mengajarkan bentuk lain tabungan; investasi. Saya antipati sekali pada hal tersebut dulu&#8230;terlihat seperti halusinasi belaka, dan rasanya berisi tipuan semua&#8230;he&#8230;..maklum, konservatif minded kalau soal uang. Namun saya melihat sisi lain investasi, khususnya bagi perempuan, dalam buku ini.Yahh, meskipun saat ini belum dalam kapasitas untuk bisa &#8216;berinventasi&#8217; skala besar, setidaknya saya sudah tidak antipati lagi, dan mulai mampu berpikir secara lebih terbuka terhadap kesempatan - kesempatan mempersiapkan masa depan, khususnya bagi anak - anak saya. Semoga dikemudian hari saya (dan juga anda para sahabat blogger) diberi kesempatan tidak saja untuk belajar, tetapi juga untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan kita masing - masing&#8230;.demi masa depan yang lebih baik bagi kita semua!!!!&#8230;&#8230;..-amin-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2009/01/11/gadis-manis-sulit-menjadi-kaya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Sahabat - II</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/12/12/tentang-sahabat-ii/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/12/12/tentang-sahabat-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 05:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya tidak menyadari betapa &#8216;rentannya&#8217; masa - masa Sekolah Menengah Pertama itu. Jika umumnya orang memiliki masa - masa indahnya remaja di waktu SMA, maka  sejujurnya saya katakan bahwa masa - masa indah saya ada di sini, di masa SMP. Tak ada satupun teman SD saya yang turut masuk ke SMP yang sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya saya tidak menyadari betapa &#8216;rentannya&#8217; masa - masa Sekolah Menengah Pertama itu. Jika umumnya orang memiliki masa - masa indahnya remaja di waktu SMA, maka  sejujurnya saya katakan bahwa masa - masa indah saya ada di sini, di masa SMP. Tak ada satupun teman SD saya yang turut masuk ke SMP yang sama dengan saya&#8230;otomatis saya &#8216;on my own&#8217; ketika memulai masa belajar di SMP tersebut.</p>
<p><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/smp.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-375" title="Main di rumah teman, jadi rutinitas masa SMP" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/smp-300x128.jpg" alt="" width="300" height="128" /></a></p>
<p>Dalam ingatan saya, sekolah tersebut merupakan sekolah terbaik yang pernah saya tempati selama kehidupan belajar sebagai siswa. Sampai detik ini, saya merasa sekolah tersebut berhasil menyediakan semua kualitas optimal yang diperlukan dalam ruang belajar mengajar. Bangunan 1 lantai, dengan material - material sederhana (batu alam, dinding bata, kusen kayu, atap genteng kodok), lapangan olahraga, taman dalam maupun luar, ruang kelas yang tidak bersentuhan langsung dengan &#8216;dunia luar&#8217;, ruang ganti pakaian selain toilet&#8230;pokoknya semua aspek yang sebaiknya dimiliki oleh sebuah sekolah.</p>
<p>Lokasinya berada tidak terlalu jauh dari rumah saya. Biasanya saya naik Metromini T 46 (Kampung Melayu - Pulo Gadung) atau T 49 (Manggarai - Pulo Gadung) selama kira - kira 10 menit, lalu turun di jalan Balai Pustaka dekat sekolah tersebut. 10 menit karena di masa itu belum ada kemacetan, sehingga 6 menitnya terpakai oleh 3 lampu merah yang terbentang dalam perjalanan. Setelah turun, saya harus berjalan kira - kira 5 menit memotong jalan melewati sebuah gang kecil untuk sampai ke pintu gerbangnya. Dari pintu gerbang utama ke bangunan sekolah memakan waktu kira - kira 5 menit lagi karena harus melewati lapangan parkir dan sebuah ruang serba guna. Sebelum &#8216;masuk&#8217; ke kompleks bangunan kelas terdapat sebuah pagar lagi. Pagar ini biasanya dikunci selama jam pelajaran sehingga  jika ada orang datang menjemput tidak bisa masuk ke area belajar.</p>
<p>Setelah kita melewati gerbang tersebut, kita akan berjalan di sebuah pedestrian besar terbuka dengan lantai dari conblok abu - abu yang lebarnya kira - kira 3 meter. Disebelah kiri kita terdapat taman dengan pohon - pohon besar yang tinggi dan rimbun dengan dedaunan. Disebelah kanan kita terdapat bangunan kelas 1 lantai . Sisi bawah dindingnya dilapisi batu kali yang hitam keabu - abuan, sisi dindingnya di cat warna krem kekuningan dan didominasi oleh jendela dengan kusen kayu yang dicat dengan warna yang sama dengan dindingnya. Ini adalah ruang favorit saya. Di musim kemarau jalanan ini tertutup daun-daun kering yang berguguran. Aromanya khas sekali&#8230;begitu membumi..dan di atas kepala sinar mentari bermain menerobos awan serta ranting ranting pohon yang menjorok ke pedestrian tersebut. Jika kita melewatinya diwaktu jam belajar sudah dimulai, maka terdengar suara guru ataupun senda gurau para murid dari jendela - jendela yang terbuka, bergantian dari ruang kelas ke ruang kelas.</p>
<p>Saya tidak akan bercerita lebih jauh tentang bangunannya, karena ada hal lain yang juga saya cintai dari sekolah ini; guru - gurunya. Saya memang bukan murid pandai yang punya prestasi cemerlang yang dapat menjadi bukti kehebatan mereka mengajar. Namun rasa - rasanya saya belum menemukan guru - guru dengan dedikasi dan kecintaan mengajar seperti yang mereka miliki. Mereka tidak hanya mengajarkan apa yang harus mereka ajar, tetapi juga mendidik murid - muridnya. Saya sebut mendidik, salah satunya karena dalam tiap pelajaran, pasti akan selalu ada komentar tentang sikap atau kelakuan para murid secara personal. Ya, benar - benar setiap orang pasti pernah kena komentar. Kalau tidak dari guru yang satu, ya dari guru yang lain. Memang terkadang menyakitkan dan juga memalukan karena dilakukan didepan seluruh kelas, tetapi saya sadar, maksud mereka murni hanya ingin mendorong kami belajar lebih giat dan lebih serius. Tidak jarang pula jika mereka memuji, mereka melakukannya dikelas lain, sehingga kebaikan seorang anak akan segera tersebar keseluruh sekolah.</p>
<p>Hal penting lain dari SMP adalah sahabat - sahabat yang datang dan pergi dalam kehidupan singkat di masa itu. Atalia Felicia adalah sahabat pertama di awal kelas I. Kami punya NEM SD yang sama persis sampai ke 2 digit angka dibelakang koma. Tidak seperti saya yang &#8216;by the book&#8217;, Feli lebih berani dan cuek sehingga dengan cepat ia memiliki banyak teman. Di akhir masa belajar kelas I saya bersahabat dengan Alia. Alia pandai, cantik, dan sangat pendiam(kualitas yang tidak pernah saya miliki). Karena berbeda kelas saya kemudian menemukan sahabat baru di pertengahan kelas 2; Edith, Eva. Kami juga mengikuti les diluar sekolah sehingga banyak menghabiskan waktu bersama. Edith putih, kecil mungil, cantik dan cerewet. Eva berkulit sawo matang, mungil meskipun tidak terlalu kurus dan lebih pendiam. Otomatis saya jadi yang hitam, besar (saya yang paling tinggi dan &#8216;gede&#8217;) dan bawel&#8230;He&#8230;</p>
<p>Di Kelas 3 persahabatan kami meluas dengan terbentuknya OTS. Kenapa OTS ? Karena kelompok kami resmi dibentuk setelah kami bersama - sama menonton film Only The Strong di bioskop, dan sama - sama pula &#8216;jatuh cinta&#8217; pada Mark Dacacos, si jagoan capoeira. Ada Dhini, Edith, Endah, Egi, Irene, Santi, Edwina, Ria, Tasik dan saya sendiri.</p>
<p>Meskipun tidak selalu bisa menghabiskan waktu bersama kesemua anggotanya, tapi dalam banyak hal kami tetap saling bercerita dan saling menguatkan. Kami berbagi cerita cinta (atau apa yang saat itu kami yakini sebagai cinta) tentang cowok - cowok yang kami sukai (dari sesama murid, kakak atau adik kelas, sampai guru!). Saya masih menyimpan sebuah buku yang berisi puisi - puisi kami&#8230;sebagian besar tentang perasaan hati kami terhadap persahabatan dan terhadap seseorang&#8230;(tuwiiiiwwwwwiiittt)..hi..Secara masih SMP gitu loh!!! Saat ini memang puisi2 itu terasa canggung, namun tak urung, setiap kalimatnya membuat  saya diingatkan kembali pada peristiwa2 saat tiap - tiap puisi itu tercipta.</p>
<p>Tak ada satupun anggota OTS yang melanjutkan ke SMA yang sama dengan saya. Kebanyakan kembali masuk SMA swasta. Ada yang ke SMA khusus wanita, ada yang umum, ada pula yang ke SMA negeri lainnya. Akhirnya kesibukan disekolah baru mengakhiri masa - masa kebersamaan penuh persahabatan diantara kami.</p>
<p>O, sahabat&#8230;betapa banyak puisi kehidupan telah tercipta tanpa mampu kita bagi bersama lagi&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/12/12/tentang-sahabat-ii/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Ekonomi</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/12/05/teori-ekonomi/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/12/05/teori-ekonomi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 11:31:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Notes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Ketika dolar Amerika meroket beberapa minggu belakangan ini, suami saya mulai pusing kepala (ya iyalah, masa pusing di kaki&#8230;hi&#8230;.). Meskipun usahanya tidak melibatkan dolar dalam jumlah besar, tetapi perbedaan kurs yang terjadi dalam waktu singkat tersebut cukup membuatnya ketar ketir. Bagaimana tidak, usaha web hosting yang ia jalankan masih sangat bergantung pada dolar. Pembelian domainnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika dolar Amerika meroket beberapa minggu belakangan ini, suami saya mulai pusing kepala (ya iyalah, masa pusing di kaki&#8230;hi&#8230;.). Meskipun usahanya tidak melibatkan dolar dalam jumlah besar, tetapi perbedaan kurs yang terjadi dalam waktu singkat tersebut cukup membuatnya ketar ketir. Bagaimana tidak, usaha web hosting yang ia jalankan masih sangat bergantung pada dolar. Pembelian domainnya pakai dolar. Kalau ada yang tertarik menyewa server (istilahnya dedicated server), beli server dan embel - embelnya semua pakai rate dolar. Jika pemasukan standarnya, tadinya, bisa menjadi modal untuk membeli domain atau server untuk klien baru, maka dengan kenaikan dolar yang terjadi otomatis harus mencari tambahan dana untuk modal membeli domain dan server lagi.</p>
<p>Suatu sore di pekarangan (cihiiiiy&#8230;boong deng, kita ga punya pekarangan..wong kita tinggalnya di gang&#8230;he&#8230;..ini kata ganti tempat, supaya para pembaca tidak perlu membayangkan peristiwa - peristiwa lain yang terjadi sebelum atau sesudah pembicaraan ini tercipta), kamipun membahas geliat kehidupan ekonomi di Indonesia dan dampaknya pada kehidupan kami. Ujung - ujungnya saya mengeluhkan soal para koruptor yang seenaknya saja mengambil uang negara dan mengakibatkan bangsa ini terpuruk dalam hampir tiap segi kehidupan. Suami saya lalu muncul dengan teori ini: Yang menyebabkan parahnya ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya tidak berhenti di kegiatan korupsi yang terjadi, melainkan apa yang dilakukan para koruptor setelah mendapatkan uang korupsi tersebut.</p>
<p>Umumnya, karena takut, para koruptor membelanjakan uang hasil korupsinya di luar negeri. Mereka membeli rumah, apartemen, tanah&#8230;tapi diluar negeri. Lalu mereka membelanjakan uang mereka untuk mengisi rumah, apartemen dan membangun&#8230;tapi diluar negeri. Mereka juga berbelanja, kebutuhan fashion, jalan - jalan&#8230;diluar negeri. Alhasil semua uang negara yang dikorup itupun habis diluar negeri. Berapa yang sampai ke tangan rakyat negeri ini? nyaris nol.</p>
<p>Tetapi ada pula koruptor skala kecil yang (mungkin karena korupsinya kecil jadi tidak bisa ke luar negeri&#8230;he&#8230;) membelanjakan uangnya di dalam negeri. Mereka membeli tanah, bangun rumah, beli apartemen, belanja furniture, membuat pesta besar, liburan keluarga besar&#8230;..dimana? didalam negeri. Semua uang tersebut kembali ke masyarakat dalam bentuk pembelanjaan barang, pembelian produk dan pembayaran upah. Semuanya menjadi &#8216;rezeki&#8217; bagi orang - orang yang terlibat dalam proses pembelanjaan tersebut. Orang apa? Orang Indonesia.</p>
<p>Bukannya kami lalu setuju dengan para koruptor tipe kedua ini loh!!! Cuma saja ada hikmah yang bisa dipetik&#8230;bahwa Tuhan selalu punya jalan untuk menyampaikan rezeki ke tangan mereka yang memintanya. Kita tidak pernah tau kita dibayar pakai uang apa bukan? Tetapi keringat dan kerja keras kita menghalalkan apa yang kita terima dan mensyukurinya sebagai rezeki dari Tuhan. Apalagi ketika uang tersebut menjadi uang yang menghidupi keluarga kita. Besar ataupun kecil, menjadi berkat dimeja makan kita dan pakaian yang mempercantik putri - putri kita.</p>
<p>Dan dengan kesimpulan itu pula, saya menarik kembali semua makian terhadap para koruptor. Saya memilih untuk diam dan menyerahkan nasib mereka ke tangan Hakim Agung yang tidak pernah salah dalam mengadili, dan yang bukti - buktinya 100% sah dunia akhirat!!! (hiiiiikikikkkk&#8230;&#8230;.maaf&#8230;.dendam modenya masih on)</p>
<p>Tugas saya adalah untuk bekerja keras. Bergadang didepan komputer&#8230;(meskipun seringkali tak mampu menolak godaan blog walking dan facebook), Jualan sampai bibir kering&#8230;(dan deg2an kalau tidak mampu menjawab pertanyaan klien), Memberikan pelayanan terbaik bagi klien (hayoooooo&#8230;.jangan mikir yang aneh2 yah!!!), Naik turun tangga sampai 5 kali sambil menggendong tas laptop yang berat ituh&#8230;(maklum laptop tua, masih berat banget!)&#8230;pokoknya bekerja sebaik mungkin! Sisanya adalah bagian kerja Tuhan.</p>
<p>Semoga kehidupan ekonomi negara ini semakin baik, dan rupiahnya semakin menguat. Semoga bangsa ini kembali menjadi bangsa produktif. Bangsa penghasil..bukan pembeli. Bangsa produsen..bukan konsumen. Bangsa yang mampu berdiri sendiri, bukan bersandar pada bahu bangsa lain. Semogaaaa&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/12/05/teori-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Sahabat - I</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/12/04/tentang-sahabat-i/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/12/04/tentang-sahabat-i/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 15:53:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Saya berhutang pada Enyd Blyton dan Bung Smas yang pertama kali memperkenalkan makna sahabat kepada saya. Melewati masa Sekolah Dasar dengan membaca sebagian besar karya mereka, saya sadar akan pengaruh Mallory Towers, St. Claire, ataupun si Pulung dalam pembentukan karakter saya di masa itu.
Bagaimana &#8216;baik&#8217; dan &#8216;buruk&#8217; menjelma dalam karakteristik tokoh - tokoh cerita mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya berhutang pada Enyd Blyton dan Bung Smas yang pertama kali memperkenalkan makna sahabat kepada saya. Melewati masa Sekolah Dasar dengan membaca sebagian besar karya mereka, saya sadar akan pengaruh Mallory Towers, St. Claire, ataupun si Pulung dalam pembentukan karakter saya di masa itu.</p>
<p>Bagaimana &#8216;baik&#8217; dan &#8216;buruk&#8217; menjelma dalam karakteristik tokoh - tokoh cerita mereka menjadi demikian hidup melalui persoalan - persoalan khas anak - anak yang diramu dengan demikian indahnya. Tidak pelik, tidak dibuat - buat dan mengalir begitu dekat dengan kenyataan keseharian, membuat saya hanyut dalam keyakinan seakan - akan semua cerita tersebut merupakan narasi kehidupan nyata seseorang.</p>
<p>Melalui cerita - cerita mereka saya mengenali kisah - kisah persahabatan. Kebutuhan akan teman yang selalu sedia dalam suka dan duka. Atau teman yang turut serta menyertai kita dalam petualangan mengungkap misteri seperti halnya Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu atau Sapta Siaga. Yang terakhir inilah yang mengingatkan saya akan kisah saya dengan ke orang sahabat saya waktu SD dulu.</p>
<p>Seingat saya, kedekatan kami dimulai ketika duduk dikelas 6 SD. Diawali dari kecintaan pada buku - buku cerita karya kedua Maestro yang saya sebutkan diatas, kami mulai saling tukar menukar buku cerita yang kami miliki satu sama lain. Semakin lama kami semakin dekat sehingga akhirnya kami selalu pulang bersama nyaris setiap hari. Biasanya kami tidak langsung pulang, melainkan mampir dulu, entah ke Gramedia Matraman yang waktu itu masih merupakan gedung baru dan menjadi satu - satunya toko buku terlengkap dalam radius 10 km( pernyataan tanpa bukti,mohon jangan dikutip), atau main di salah satu rumah, yang biasanya, sedang tidak ada orang tuanya (jadi bisa main lama tanpa diusir pulang).</p>
<p>Kami selalu berkhayal untuk dapat menyelesaikan suatu misteri seperti layaknya tokoh - tokoh cerita petualangan yang kami baca dan pertemuan - pertemuan rutin kami adalah untuk membahas kemungkinan - kemungkinan adanya misteri dalam kehidupan kami yang mungkin saja terlewati oleh kami&#8230;tentu saja, sampai saat kami semua lulus SD dan akhirnya berpisah di masa SMP, tak satupun misteri berhasil kami temukan. Kalaupun ada, seperti kasus hilangnya suatu barang, kami akan membahasnya selama beberapa kali pertemuan, untuk kemudian menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk meneruskan penyelidikan dan akibatnya kasus terpaksa kami tutup! (Lalu kami mencari tukang baso, dan makan baso ramai - ramai sambil mencari misteri baru.)</p>
<p>Inilah sepotong ingatan saya tentang sahabat - sahabat SD saya dulu :</p>
<p>Wahyu Rahardjo (Yang koleksi Trio Detektifnya lengkap, satu - satunya kawan yang bicara apa adanya, dan sama sensitifnya dengan saya terhadap kemulusan koleksi buku ceritanya), Siti (sahabat paling sederhana, paling setia dan seingat saya yang tidak dimarahi pulang terlambat kalau saya yang mengantar pulang), Tri Indra (Yang kurus, suka bercanda tapi juga perasa), Sixtus (yang aktif jadi putera altar, periang, suka bicara soal falsafah  ), Kitty (Anak pindahan yang rumahnya paling dekat dengan SD, juga paling tinggi diantara kami semua). Ada juga Eric yang pernah menawarkan &#8216;rumah pohon&#8217; nya ke kami sebagai markas.</p>
<p>O sahabat&#8230;.dimanakah kalian berada sekarang?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/12/04/tentang-sahabat-i/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Reuni</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/11/24/tentang-reuni/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/11/24/tentang-reuni/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 13:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu kemarin, 23 November 2008, SMUN 8 mengadakan reuni akbar merayakan 50 tahun keberadaan sekolah tersebut. Sebagai salah seorang alumni yang paling jarang datang ke acara reunian baik yang diadakan secara formal maupun tidak, kehadiran saya benar - benar berutang pada keberadaan facebook yang beberapa minggu sebelumnya mempertemukan saya dengan Shinta, salah seorang sahabat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Minggu kemarin, 23 November 2008, SMUN 8 mengadakan reuni akbar merayakan 50 tahun keberadaan sekolah tersebut. Sebagai salah seorang alumni yang paling jarang datang ke acara reunian baik yang diadakan secara formal maupun tidak, kehadiran saya benar - benar berutang pada keberadaan facebook yang beberapa minggu sebelumnya mempertemukan saya dengan Shinta, salah seorang sahabat waktu SMA dulu.</p>
<div id="attachment_318" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2008/11/2.jpg"><img class="size-full wp-image-318" title="2" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2008/11/2.jpg" alt="Irma,Mona,Tami,Nadin" width="400" height="267" /></a><p class="wp-caption-text">Irma,Mona,Tami,Nadin</p></div>
<p>Setelah kembali dari acara reuni tersebut, saya jadi ingat kembali beberapa kisah sma yang sempat lenyap dalam kenangan ditengah kesibukan keseharian saya. Kisah - kisah itu antara lain tentang SIERA, atau Sie Upacara, tentang 4 sekawan, dan tentang perjuangan.</p>
<p>Saya ingat betapa saya pernah bermimpi jadi anggota pasukan pengibar bendera pusaka. Ketika masuk SMA, sayapun bergabung dalam sie upacara yang kerjanya mondar - mandir latihan baris berbaris dilapangan sampai kulit jadi hitam &#8216;peteng&#8217;&#8230;.(he&#8230;.yang ini bohong&#8230;kulit saya memang sudah hitam dari &#8217;sananya&#8217;). Banyak yang mencemooh. Untuk apa pula ikut ekstra kurikuler model &#8216;tempo dulu&#8217; seperti SIERA. Tapi saya tetap bertahan. Bahkan ketika mimpi untuk berbaris di Istana Merdeka menjadi tinggal kenangan ketika saya akkhirnya diputuskan tidak lolos pemilihan anggota Paskibra di tingkat Jakarta Selatan, saya masih tetap &#8216;nongkrong&#8217; bersama teman - teman, setidaknya sampai bagian awal masa kelas III.</p>
<p>Mungkin teman - teman lain tidak dapat mengerti perasaan bangga yang saya alami dalam hati ketika melihat bendera merah putih itu berkibar gagah diangkasa. Tidak dapat mengerti perasaan bangga ketika langkah kaki dalam keserasian dan keseragaman berbaris hikmad mengantar sang saka ke tiang bendera. Tidak dapat mengerti perasaan yang berkecamuk didalam dada saat mendengar Indonesia Raya berkumandang dengan lantang. Tapi buat saya, semua perasaan itu cukup untuk membuat saya bertahan di dalam kegiatan yang me&#8217;nyiksa&#8217; anggotanya dengan panas terik dan cemooh teman2. Ketika kemarin saya melihat beberapa teman sie upacara&#8230;saya mengingat kembali semua kenangan itu. pahit dan manis.</p>
<p>Tentang 4 sekawan, sebenarnya bukan itu namanya. Kami bahkan tidak punya nama tertentu seperti gank pada umumnya. Saya tidak bisa mengingat bagaimana saya yang notabene hitam, urakan, cuek&#8230;dan anak sie upacara ini, bisa berakhir berteman dengan 3 gadis cantik dengan kulit putih super mulus dan modis; Shinta, Mona dan Egi. Ketiga - tiganya pandai dan  tidak seperti saya, rasanya mereka tidak pernah naik metromini. Setelah lulus ketiga - tiganya masuk fakultas kedokteran UI yang kampusnya di Salemba. Dan meskipun masih satu almamater, saya terdampar di fakultas teknik yang kampusnya ada di Depok. Meskipun berada di teknik memang cita - cita saya (asumsi : mahasiswa banyak&#8230;mahasiswi minim!!!), tak urung saya sedih juga berpisah dengan mereka.</p>
<div id="attachment_324" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2008/11/1.jpg"><img class="size-medium wp-image-324" title="1" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2008/11/1-300x200.jpg" alt="Shinta,Nadin,Mona,Tami,Irma,Anto" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Shinta,Nadin,Mona,Tami,Irma,Anto</p></div>
<p>Selama hampir 1 tahun terakhir disekolah, mereka bertiga inilah tempat curhat, teman belanja, dan teman bolos kalau sedang malas les tambahan. Ketika masa persiapan kuliah sudah dimulai, mereka masih dapat berdiskusi dan janjian ketemuan di &#8216;tengah Jakarta&#8217;, sementara saya sibuk menyesuaikan diri dengan kereta api Jakarta - Bogor, bis kampus dan ojek dipinggiran pagar kuning. Ketika reuni kemarin, saya teringat masa dimana saya merasa sangat lelah belajar, dan kemudian wajah - wajah mereka muncul dimata hati saya. Memberi semangat, memacu daya saing&#8230;untuk kembali belajar. Bahkan ketika kami tidak bersama, ingatan tentang mereka tetap memacu saya untuk maju dan menjadi lebih baik lagi.</p>
<p>Saya menyesal menggunakan sepatu hak tinggi, satu - satunya milik saya, waktu reuni kemarin. Berdiri 2 jam saja, rasanya pegaaaaal sekali. Mona datang jam 11 sesuai janji kami&#8230;tapi Shinta baru muncul hampir pukul 1 siang!!! Selain rasa lelah di kaki, banyaknya orang tidak memungkinkan kami bercerita dengan leluasa. Saya sebenarnya ingin mengajak mereka jalan keluar untuk bercerita lebih banyak, tetapi mereka sendiri sepertinya masih ingin berbincang dengan teman - teman lain. Jadilah saya pulang lebih dulu. Di taxi, saya merenungkan masa - masa itu&#8230;</p>
<p>Masa dimana apapun masih mungkin terjadi&#8230;segala sesuatu masih mungkin diraih&#8230; Masa dimana cinta hanyalah pertemuan dan tatap mata. Mimpi hanyalah sejauh belajar sampai dini hari. Hidup hanyalah kemarin dan hari ini.</p>
<p>Betapapun indahnya masa - masa itu, kita semua dipaksa untuk meninggalkannya. Takdir menarik&#8230;menyeret kita, untuk maju, dan bertumbuh. Menjadi dewasa. Suka ataupun tidak&#8230;Disinilah kita berdiri sekarang.</p>
<p>Ya&#8230;disinilah saya berdiri sekarang. Dengan penuh harap menatap kedepan&#8230;dan menyadari, benang merah dari masa lalu itu terjuntai ditangan&#8230;namanya &#8216;perjuangan&#8217;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/11/24/tentang-reuni/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
