<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Being Persistence &#187; About Me</title>
	<atom:link href="http://www.beingpersistence.com/category/about-me/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.beingpersistence.com</link>
	<description>what life is all about</description>
	<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 11:01:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Tentang Cinta</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2009/02/24/tentang-cinta/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2009/02/24/tentang-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 13:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Saya memandang diri saya sebagai orang yang beruntung. Saya bersyukur karena saya diberikan kesempatan untuk dicintai sepanjang hidup saya, dan mencintai&#8230;mudah - mudahan sampai akhir hidup saya.
Saya merasa dicintai oleh kedua orang tua saya, meskipun dalam banyak kasus saya merasa orang tua saya, khususnya Ibu saya, memilih untuk &#8216;lebih&#8217; mencintai (satu -satunya) adik saya. Apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya memandang diri saya sebagai orang yang beruntung. Saya bersyukur karena saya diberikan kesempatan untuk dicintai sepanjang hidup saya, dan mencintai&#8230;mudah - mudahan sampai akhir hidup saya.</p>
<p>Saya merasa dicintai oleh kedua orang tua saya, meskipun dalam banyak kasus saya merasa orang tua saya, khususnya Ibu saya, memilih untuk &#8216;lebih&#8217; mencintai (satu -satunya) adik saya. Apakah saya sedih? Tentu saja! (Meskipun saya menyadari bahwa mungkin ini hanyalah perasaan saya saja, dan bahwa sebenarnya ayah dan ibu saya mencintai kami berdua apa adanya, sama besarnya).Tetapi setelah saya menjadi seorang Ibu, saya melihatnya sebagai suatu pelajaran yang harus saya alami supaya saya, dengan segala kemampuan yang saya miliki, dapat mencegah kejadian serupa terjadi pada anak - anak saya.</p>
<p>Untuk banyak orang, cinta mungkin terlihat &#8216;luxurious&#8217;, jadi saya bersyukur kalau sampai saat ini saya melihat cinta sebagai suatu kemampuan yang secara alami saya (dan saya percaya : setiap manusia) miliki.</p>
<p>Perasaan cinta mungkin dapat tercipta ketika orang - orang disekitar kita melakukan tindakan - tindakan cinta untuk kita; pelukan hangat anak - anak, ciuman mesra suami, surat cinta dari kekasih, hadiah dari sahabat&#8230;.tapi sebenarnya semua itu adalah keputusan kita. Kitalah yang memutuskan untuk melihat semua tindakan itu sebagai suatu bentuk tindakan cinta.</p>
<p>Contohnya begini; Jika seseorang yang karena suatu hal telah lama tidak kita sukai, juga visa versa membenci kita, tiba - tiba mengirimkan surat permintaan maaf, kesan apa yang muncul dalam pikiran dan perasaan kita pertama kali? Mungkin kita malah curiga, atau juga bingung&#8230;mungkin juga malah tersinggung. Kita bisa saja melihatnya sebagai banyak hal negatif&#8230;tetapi kita juga punya pilihan untuk melihatnya sebagai suatu bentuk cinta&#8230;dan bagaimana kita membalasnya&#8230;itu murni pilihan kita. Dan itu semua terulang kembali ketika orang yang telah kita maafkan misalnya, mengulangi kembali kesalahan atau kejadian yang tidak kita inginkan. Saat itu terjadi, kita kembali berhadapan pada pilihan untuk melihat tindakan itu sebagai suatu akhir dari hubungan atau suatu kesempatan untuk memberikan cinta lagi.</p>
<p>Jadi bahkan, ketika saya tidak merasa dicintai&#8230;seperti yang saya rasakan dalam hubungannya dengan adik saya, saya dapat memilih untuk tetap mencintai dia. Saya dapat bersikap untuk tidak peduli dan tidak lagi mau tahu, tetapi saya sadar, dengan demikian sayalah yang memutuskan benang cinta diantara kami.</p>
<p>Saya berkali kali merasa kecewa&#8230;berkali kali merasa tertipu&#8230;berkali kali merasa kalah&#8230;berkali kali merasa marah&#8230;tapi saya akan terus berjuang untuk mempertahankan benang itu. Bahkan ketika rasa percaya nyaris tidak lagi ada&#8230;saya mau tetap percaya, bahwa kemampuan cinta itu sepenuhnya anugerah Tuhan untuk saya. Dan karenanya saya punya kekuatan, untuk mencintai seorang wanita dewasa yang mandiri, seorang pribadi yang bertolak belakang dengan saya pada hampir semua sifatnya&#8230;&#8230;,seorang adik&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; whatever it takes&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Saat ini saya bersyukur karena saya merasa dicintai oleh suami dan anak - anak saya. Melalui mereka, saya merasakan cinta Tuhan untuk saya. Seringkali kondisi - kondisi kehidupan memaksa kita untuk &#8216;hidup dengan keras&#8217;&#8230;tergopoh - gopoh mencari pekerjaan, kemudian tergesa - gesa mencoba menyelesaikan tanggung jawab, dan ketika hasil yang dicapai ternyata kurang cukup untuk mencapai harapan - harapan kita, kita terkejut&#8230;.lalu tersadar, betapa lelahnya tubuh dan pikiran kita, semuanya untuk mengejar banyak hal yang sepertinya sia - sia. Setidaknya itulah yang saya rasakan beberapa minggu terakhir ini.</p>
<p>Bersyukurlah saya, bahwa kelelahan saya mendapat hiburan berupa celoteh manis kedua putri saya, dan bahwa suami saya tidak mengajukan deretan pertanyaan yang penuh tuntutan. Malam ini, saya bersyukur, karena saya merasa dicintai&#8230;apapun yang terjadi dalam sisi kehidupan saya yang lain&#8230;berhasil ataupun gagal, menang ataupun kalah, cinta mereka selalu ada, setidaknya selama saya terus percaya bahwa saya juga memiliki cukup kekuatan  cinta untuk mereka semua.</p>
<p>O, ya&#8230;semua kalimat &#8216;klise&#8217; tentang cinta itu benar&#8230;bahwa cinta butuh pengorbanan, bahwa cinta itu pedang bermata dua, bahwa cinta itu anugerah, bahwa cinta tak harus memiliki&#8230;.dan sejuta cerita tentang cinta lainnya&#8230;.., yang seringkali tidak diceritakan, adalah bahwa kitalah yang harus memilih cinta mana yang akan kita jalani.</p>
<p>Ada cinta yang menghancurkan&#8230;ada cinta yang membangun. Ada cinta yang merusak&#8230;ada cinta yang mendidik. Ada cinta yang mematikan&#8230;ada cinta yang menghidupkan. Ada cinta yang menghardik dan memaki&#8230;ada cinta yang menyimpan rapat semuanya dalam hati. Ada cinta yang hanya mengambil&#8230;ada cinta yang hanya memberi. Ada cinta yang tidak disadari&#8230;ada cinta yang selalu disyukuri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2009/02/24/tentang-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Sahabat - III</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2009/02/22/tentang-sahabat-iii/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2009/02/22/tentang-sahabat-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 12:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah cerita tentang dunia tari dan sahabat - sahabat yang saya temui didalamnya.
Ibu saya mengikut sertakan saya dalam sanggar tari daerah dekat rumah sejak saya berusia 3 tahun. Ia kemudian melihat bahwa saya secara khusus sangat menyukai tari bali, sehingga akhirnya saya dipindahkan ke sanggar khusus tari bali. Sanggar Aditya Warman asuhan Ibu Dayu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah cerita tentang dunia tari dan sahabat - sahabat yang saya temui didalamnya.</p>
<p>Ibu saya mengikut sertakan saya dalam sanggar tari daerah dekat rumah sejak saya berusia 3 tahun. Ia kemudian melihat bahwa saya secara khusus sangat menyukai tari bali, sehingga akhirnya saya dipindahkan ke sanggar khusus tari bali. Sanggar Aditya Warman asuhan Ibu Dayu, berada di Pura dekat rumah kami. Di sanggar inilah dasar - dasar gerakan tari saya dibentuk.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/3.jpg"><img class="size-medium wp-image-364 aligncenter" title="Tarian favorit saya, Oleg tambulilingan dan Tarunajaya" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/3.jpg" alt="" width="300" height="235" /></a></p>
<p>ketika duduk di SMP saya pindah sanggar ke Widya Budaya, asuhan Bp. Agus Perbawa dan Ibu Sukarni (saat itu di jalan Veteran, Jakarta Pusat) karena sanggar lama di tutup oleh pihak Pura. Sanggar ini merupakan sanggar yang lebih besar dan bisa dikatakan masuk dalam tataran profesional karena pentas yang dilakukan sudah bersifat komersial. Meskipun inti pelatihan tetap tarian Bali, tapi kami juga wajib menguasai beberapa tarian daerah lain yang harus sering dipentaskan seperti tarian Aceh, tarian Sunda, Betawi dan Padang. Latihan tari dilakukan pada malam hari, 2 kali seminggu, sementara ada pementasan hampir setiap minggu.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/1.jpg"><img class="size-medium wp-image-362 aligncenter" title="Sebelum pementasan Ronggeng dan Menarikan Bedoyo untuk pesta pernikahan" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/1-300x87.jpg" alt="" width="300" height="87" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/pon.jpg"><img class="size-medium wp-image-367 aligncenter" title="Berfoto bersama sebelum pembukaan PON di Istora Senayan" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/pon.jpg" alt="" width="300" height="192" /></a></p>
<p>Inilah sahabat - sahabat saya di sanggar ini; Ada Iva, anak kolong yang waktu SMA dulu nakal sekali sampai 3 kali pindah sekolah!hi&#8230;(yang penting sekarang kan sudah jadi Ibu yang manis yah va!), ada Dyah, Lia, Vera, Nita. Ada Tanti yang notabene adalah tetangga depan rumah saya juga, ada Dayu Reti dan Dayu Sanis, kakak beradik cantik yang asli orang Bali, Nanet dengan rambutnya yang super panjang sehingga kalau pentas tidak perlu rambut palsu lagi, Iin dengan lesung pipit yang super dalam, Lavi yang kurus dan kalem sekali, Sari yang ceplas ceplos, dan Poppy dengan rambut keritingnya yang khas.</p>
<p>Dari panggung kecil dengan alas papan kayu yang seratnya keluar sehingga melukai kaki (pementasan di acara 17 agustusan RT/RW), sampai panggung terang benderang di berbagai convention centre dan gedung pertemuan&#8230;dari lantai aspal yang panas di lapangan terbang (sewaktu menyambut tamu negara dalam acara KTT Non blok tahun 1992) sampai pementasan di Istana Negara&#8230;dan tentu saja, pengalaman seru ketika pentas di Nagoya dan Kolombo&#8230;semuanya saya lewati bersama sahabat - sahabat saya tersebut.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/4.jpg"><img class="size-medium wp-image-365 aligncenter" title="Seragam Batik, Rampai Aceh On Stage di Nagoya dan Tari Piring yang diulas salah satu Harian Ibukota" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/4-300x194.jpg" alt="" width="300" height="194" /></a></p>
<p>Berbagai kesulitan menjelang pentas; ketinggalan atribut pakaian, salah bawa kostum, salah pasang konde,&#8230;sampai masalah diatas panggung; lupa gerakan, salah posisi, anting nyangkut di selendang, kain terinjak teman, atribut ada yang lepas, kipas salah warna, soundsistem mati ditengah tarian&#8230;.semuanya membuat kami semakin dekat dan kompak&#8230;saling membantu dan menutupi, yang terpenting pentas berlangsung lancar dan memukau para penonton.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/2.jpg"><img class="size-medium wp-image-366 aligncenter" title="Sesudah pementasan di Kolombo, Srilanka - Sanis,Tanti, Imelda, Nadin, Sari, Ibu Karni, Dyah, Iva (yang pakai topi), Vera, Reti, Poppy, Cinde" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/2-300x291.jpg" alt="" width="300" height="291" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/margareth-tatcher.jpg"><img class="size-medium wp-image-368 aligncenter" title="Sebelum pentas untuk menyambut PM Inggris Ibu Margareth Thatcher dalam salah satu kunjungan ke Jakarta" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/margareth-tatcher-300x141.jpg" alt="" width="300" height="141" /></a></p>
<p>Jangan salah&#8230;seperti bidang - bidang lainnya, dunia tari juga memiliki tingkat persaingan tinggi dan ketat. Jika tidak mampu menghafal gerakan dengan cepat, melakukan banyak kesalahan saat pementasan, sering tidak ikut latihan, dan tidak mampu menjaga berat badan ideal, jangan terlalu berharap akan sering diikut sertakan dalam pentas.</p>
<p>Namun semuanya terasa terbayar sudah ketika tepuk tangan penonton menggemuruh. Kerja keras berupa latihan bertahun tahun, terproyeksi dalam pentas sepanjang 3 sampai 5  menit diatas panggung&#8230;dalam waktu yang singkat itu kami menyatukan jiwa kami dalam gerakan dan alunan musik.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/metallica.jpg"><img class="size-medium wp-image-377 aligncenter" title="Para anggota group band Metallica saat menonton pementasan kami, di halaman rumah Setiawan Djody...yang pakai baret hitam Kirk Hammet, Lars Ulrich, Jason dan yang paling kanan yang empunya hajat." src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/metallica.jpg" alt="" width="300" height="196" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/baris.jpg"><img class="size-medium wp-image-369 aligncenter" title="Sebelum digambar kumisnya dalam Baris Pamungkas" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/baris.jpg" alt="" width="300" height="264" /></a></p>
<p>Sudah 3 tahun berlalu sejak terakhir saya menari panggung profesional&#8230;dan sekian tahun sejak menari bersama - sama sahabat sahabat yang saya sebutkan diatas. Betapa saya merindukan ruang - ruang rias dan tempat ganti kostum dibelakang panggung&#8230;lampu sorot yang panas menyilaukan, suara gamelan membahana, dan tentu saja, gelak tawa lepas bersama sahabat - sahabat saat menikmati nasi bungkus dan air minum kemasan!</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/lampung.jpg"><img class="size-medium wp-image-370 aligncenter" title="Diatas kapal feri dalam perjalanan untuk pentas di Bandar Lampung; Dayu Sanis, Tanti, Nadin, Dayu Reti" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/lampung.jpg" alt="" width="300" height="229" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2009/02/22/tentang-sahabat-iii/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Sahabat - II</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/12/12/tentang-sahabat-ii/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/12/12/tentang-sahabat-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 05:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya tidak menyadari betapa &#8216;rentannya&#8217; masa - masa Sekolah Menengah Pertama itu. Jika umumnya orang memiliki masa - masa indahnya remaja di waktu SMA, maka  sejujurnya saya katakan bahwa masa - masa indah saya ada di sini, di masa SMP. Tak ada satupun teman SD saya yang turut masuk ke SMP yang sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya saya tidak menyadari betapa &#8216;rentannya&#8217; masa - masa Sekolah Menengah Pertama itu. Jika umumnya orang memiliki masa - masa indahnya remaja di waktu SMA, maka  sejujurnya saya katakan bahwa masa - masa indah saya ada di sini, di masa SMP. Tak ada satupun teman SD saya yang turut masuk ke SMP yang sama dengan saya&#8230;otomatis saya &#8216;on my own&#8217; ketika memulai masa belajar di SMP tersebut.</p>
<p><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/smp.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-375" title="Main di rumah teman, jadi rutinitas masa SMP" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2009/02/smp-300x128.jpg" alt="" width="300" height="128" /></a></p>
<p>Dalam ingatan saya, sekolah tersebut merupakan sekolah terbaik yang pernah saya tempati selama kehidupan belajar sebagai siswa. Sampai detik ini, saya merasa sekolah tersebut berhasil menyediakan semua kualitas optimal yang diperlukan dalam ruang belajar mengajar. Bangunan 1 lantai, dengan material - material sederhana (batu alam, dinding bata, kusen kayu, atap genteng kodok), lapangan olahraga, taman dalam maupun luar, ruang kelas yang tidak bersentuhan langsung dengan &#8216;dunia luar&#8217;, ruang ganti pakaian selain toilet&#8230;pokoknya semua aspek yang sebaiknya dimiliki oleh sebuah sekolah.</p>
<p>Lokasinya berada tidak terlalu jauh dari rumah saya. Biasanya saya naik Metromini T 46 (Kampung Melayu - Pulo Gadung) atau T 49 (Manggarai - Pulo Gadung) selama kira - kira 10 menit, lalu turun di jalan Balai Pustaka dekat sekolah tersebut. 10 menit karena di masa itu belum ada kemacetan, sehingga 6 menitnya terpakai oleh 3 lampu merah yang terbentang dalam perjalanan. Setelah turun, saya harus berjalan kira - kira 5 menit memotong jalan melewati sebuah gang kecil untuk sampai ke pintu gerbangnya. Dari pintu gerbang utama ke bangunan sekolah memakan waktu kira - kira 5 menit lagi karena harus melewati lapangan parkir dan sebuah ruang serba guna. Sebelum &#8216;masuk&#8217; ke kompleks bangunan kelas terdapat sebuah pagar lagi. Pagar ini biasanya dikunci selama jam pelajaran sehingga  jika ada orang datang menjemput tidak bisa masuk ke area belajar.</p>
<p>Setelah kita melewati gerbang tersebut, kita akan berjalan di sebuah pedestrian besar terbuka dengan lantai dari conblok abu - abu yang lebarnya kira - kira 3 meter. Disebelah kiri kita terdapat taman dengan pohon - pohon besar yang tinggi dan rimbun dengan dedaunan. Disebelah kanan kita terdapat bangunan kelas 1 lantai . Sisi bawah dindingnya dilapisi batu kali yang hitam keabu - abuan, sisi dindingnya di cat warna krem kekuningan dan didominasi oleh jendela dengan kusen kayu yang dicat dengan warna yang sama dengan dindingnya. Ini adalah ruang favorit saya. Di musim kemarau jalanan ini tertutup daun-daun kering yang berguguran. Aromanya khas sekali&#8230;begitu membumi..dan di atas kepala sinar mentari bermain menerobos awan serta ranting ranting pohon yang menjorok ke pedestrian tersebut. Jika kita melewatinya diwaktu jam belajar sudah dimulai, maka terdengar suara guru ataupun senda gurau para murid dari jendela - jendela yang terbuka, bergantian dari ruang kelas ke ruang kelas.</p>
<p>Saya tidak akan bercerita lebih jauh tentang bangunannya, karena ada hal lain yang juga saya cintai dari sekolah ini; guru - gurunya. Saya memang bukan murid pandai yang punya prestasi cemerlang yang dapat menjadi bukti kehebatan mereka mengajar. Namun rasa - rasanya saya belum menemukan guru - guru dengan dedikasi dan kecintaan mengajar seperti yang mereka miliki. Mereka tidak hanya mengajarkan apa yang harus mereka ajar, tetapi juga mendidik murid - muridnya. Saya sebut mendidik, salah satunya karena dalam tiap pelajaran, pasti akan selalu ada komentar tentang sikap atau kelakuan para murid secara personal. Ya, benar - benar setiap orang pasti pernah kena komentar. Kalau tidak dari guru yang satu, ya dari guru yang lain. Memang terkadang menyakitkan dan juga memalukan karena dilakukan didepan seluruh kelas, tetapi saya sadar, maksud mereka murni hanya ingin mendorong kami belajar lebih giat dan lebih serius. Tidak jarang pula jika mereka memuji, mereka melakukannya dikelas lain, sehingga kebaikan seorang anak akan segera tersebar keseluruh sekolah.</p>
<p>Hal penting lain dari SMP adalah sahabat - sahabat yang datang dan pergi dalam kehidupan singkat di masa itu. Atalia Felicia adalah sahabat pertama di awal kelas I. Kami punya NEM SD yang sama persis sampai ke 2 digit angka dibelakang koma. Tidak seperti saya yang &#8216;by the book&#8217;, Feli lebih berani dan cuek sehingga dengan cepat ia memiliki banyak teman. Di akhir masa belajar kelas I saya bersahabat dengan Alia. Alia pandai, cantik, dan sangat pendiam(kualitas yang tidak pernah saya miliki). Karena berbeda kelas saya kemudian menemukan sahabat baru di pertengahan kelas 2; Edith, Eva. Kami juga mengikuti les diluar sekolah sehingga banyak menghabiskan waktu bersama. Edith putih, kecil mungil, cantik dan cerewet. Eva berkulit sawo matang, mungil meskipun tidak terlalu kurus dan lebih pendiam. Otomatis saya jadi yang hitam, besar (saya yang paling tinggi dan &#8216;gede&#8217;) dan bawel&#8230;He&#8230;</p>
<p>Di Kelas 3 persahabatan kami meluas dengan terbentuknya OTS. Kenapa OTS ? Karena kelompok kami resmi dibentuk setelah kami bersama - sama menonton film Only The Strong di bioskop, dan sama - sama pula &#8216;jatuh cinta&#8217; pada Mark Dacacos, si jagoan capoeira. Ada Dhini, Edith, Endah, Egi, Irene, Santi, Edwina, Ria, Tasik dan saya sendiri.</p>
<p>Meskipun tidak selalu bisa menghabiskan waktu bersama kesemua anggotanya, tapi dalam banyak hal kami tetap saling bercerita dan saling menguatkan. Kami berbagi cerita cinta (atau apa yang saat itu kami yakini sebagai cinta) tentang cowok - cowok yang kami sukai (dari sesama murid, kakak atau adik kelas, sampai guru!). Saya masih menyimpan sebuah buku yang berisi puisi - puisi kami&#8230;sebagian besar tentang perasaan hati kami terhadap persahabatan dan terhadap seseorang&#8230;(tuwiiiiwwwwwiiittt)..hi..Secara masih SMP gitu loh!!! Saat ini memang puisi2 itu terasa canggung, namun tak urung, setiap kalimatnya membuat  saya diingatkan kembali pada peristiwa2 saat tiap - tiap puisi itu tercipta.</p>
<p>Tak ada satupun anggota OTS yang melanjutkan ke SMA yang sama dengan saya. Kebanyakan kembali masuk SMA swasta. Ada yang ke SMA khusus wanita, ada yang umum, ada pula yang ke SMA negeri lainnya. Akhirnya kesibukan disekolah baru mengakhiri masa - masa kebersamaan penuh persahabatan diantara kami.</p>
<p>O, sahabat&#8230;betapa banyak puisi kehidupan telah tercipta tanpa mampu kita bagi bersama lagi&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/12/12/tentang-sahabat-ii/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Sahabat - I</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/12/04/tentang-sahabat-i/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/12/04/tentang-sahabat-i/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 15:53:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Saya berhutang pada Enyd Blyton dan Bung Smas yang pertama kali memperkenalkan makna sahabat kepada saya. Melewati masa Sekolah Dasar dengan membaca sebagian besar karya mereka, saya sadar akan pengaruh Mallory Towers, St. Claire, ataupun si Pulung dalam pembentukan karakter saya di masa itu.
Bagaimana &#8216;baik&#8217; dan &#8216;buruk&#8217; menjelma dalam karakteristik tokoh - tokoh cerita mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya berhutang pada Enyd Blyton dan Bung Smas yang pertama kali memperkenalkan makna sahabat kepada saya. Melewati masa Sekolah Dasar dengan membaca sebagian besar karya mereka, saya sadar akan pengaruh Mallory Towers, St. Claire, ataupun si Pulung dalam pembentukan karakter saya di masa itu.</p>
<p>Bagaimana &#8216;baik&#8217; dan &#8216;buruk&#8217; menjelma dalam karakteristik tokoh - tokoh cerita mereka menjadi demikian hidup melalui persoalan - persoalan khas anak - anak yang diramu dengan demikian indahnya. Tidak pelik, tidak dibuat - buat dan mengalir begitu dekat dengan kenyataan keseharian, membuat saya hanyut dalam keyakinan seakan - akan semua cerita tersebut merupakan narasi kehidupan nyata seseorang.</p>
<p>Melalui cerita - cerita mereka saya mengenali kisah - kisah persahabatan. Kebutuhan akan teman yang selalu sedia dalam suka dan duka. Atau teman yang turut serta menyertai kita dalam petualangan mengungkap misteri seperti halnya Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu atau Sapta Siaga. Yang terakhir inilah yang mengingatkan saya akan kisah saya dengan ke orang sahabat saya waktu SD dulu.</p>
<p>Seingat saya, kedekatan kami dimulai ketika duduk dikelas 6 SD. Diawali dari kecintaan pada buku - buku cerita karya kedua Maestro yang saya sebutkan diatas, kami mulai saling tukar menukar buku cerita yang kami miliki satu sama lain. Semakin lama kami semakin dekat sehingga akhirnya kami selalu pulang bersama nyaris setiap hari. Biasanya kami tidak langsung pulang, melainkan mampir dulu, entah ke Gramedia Matraman yang waktu itu masih merupakan gedung baru dan menjadi satu - satunya toko buku terlengkap dalam radius 10 km( pernyataan tanpa bukti,mohon jangan dikutip), atau main di salah satu rumah, yang biasanya, sedang tidak ada orang tuanya (jadi bisa main lama tanpa diusir pulang).</p>
<p>Kami selalu berkhayal untuk dapat menyelesaikan suatu misteri seperti layaknya tokoh - tokoh cerita petualangan yang kami baca dan pertemuan - pertemuan rutin kami adalah untuk membahas kemungkinan - kemungkinan adanya misteri dalam kehidupan kami yang mungkin saja terlewati oleh kami&#8230;tentu saja, sampai saat kami semua lulus SD dan akhirnya berpisah di masa SMP, tak satupun misteri berhasil kami temukan. Kalaupun ada, seperti kasus hilangnya suatu barang, kami akan membahasnya selama beberapa kali pertemuan, untuk kemudian menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk meneruskan penyelidikan dan akibatnya kasus terpaksa kami tutup! (Lalu kami mencari tukang baso, dan makan baso ramai - ramai sambil mencari misteri baru.)</p>
<p>Inilah sepotong ingatan saya tentang sahabat - sahabat SD saya dulu :</p>
<p>Wahyu Rahardjo (Yang koleksi Trio Detektifnya lengkap, satu - satunya kawan yang bicara apa adanya, dan sama sensitifnya dengan saya terhadap kemulusan koleksi buku ceritanya), Siti (sahabat paling sederhana, paling setia dan seingat saya yang tidak dimarahi pulang terlambat kalau saya yang mengantar pulang), Tri Indra (Yang kurus, suka bercanda tapi juga perasa), Sixtus (yang aktif jadi putera altar, periang, suka bicara soal falsafah  ), Kitty (Anak pindahan yang rumahnya paling dekat dengan SD, juga paling tinggi diantara kami semua). Ada juga Eric yang pernah menawarkan &#8216;rumah pohon&#8217; nya ke kami sebagai markas.</p>
<p>O sahabat&#8230;.dimanakah kalian berada sekarang?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/12/04/tentang-sahabat-i/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sepatu Baru</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/11/26/sepatu-baru/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/11/26/sepatu-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 10:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Hore&#8230;.akhirnya ada juga yang bisa tercapai di bulan november ini! Sebenarnya sih sudah tidak terlalu berharap lagi sepatu olahraga itu bisa terbeli. Tapi waktu menemani Kayla dan Naomi main di &#8216;play ground&#8217;nya GI, terlihatlah di ujung pelupuk mata poster - poster besar bertulisan &#8220;Discount 20%&#8221; itu!
Memang discountnya tidak terlalu besar. Waktu yang sebenarnya jadi patokan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hore&#8230;.akhirnya ada juga yang bisa tercapai di bulan november ini! Sebenarnya sih sudah tidak terlalu berharap lagi sepatu olahraga itu bisa terbeli. Tapi waktu menemani Kayla dan Naomi main di &#8216;play ground&#8217;nya GI, terlihatlah di ujung pelupuk mata poster - poster besar bertulisan &#8220;Discount 20%&#8221; itu!</p>
<p>Memang discountnya tidak terlalu besar. Waktu yang sebenarnya jadi patokan. Beberapa kali dalam 2 minggu terakhir ini, rasa ingin berolah raga itu muncul. Sekedar jalan atau lari&#8230;pokoknya ingiiin sekali berkeringat karena berolahraga. Waktunya ada, niatnya muncul&#8230;sayang sepatu olahraganya tidak punya.</p>
<p>Kemarin&#8230;dengan segala pertimbangan, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk beli sepatu olahraga yang discountnya hanya 20% itu. Toh kalaupun ada toko yang menjual lebih murah, mungkin waktu untuk mencarinya tidak ada. Kalaupun waktunya ada, belum tentu juga harganya lebih murah. Kalaupun kebetulan ketemu toko, waktu dan harganya&#8230;belum tentu pula modelnya sesuai&#8230;yah&#8230;demikianlah beberapa pertimbangan yang akhirnya mendorong kami membeli sepatu olahraga tersebut. O,ya sebelum lupa; discountnya hanya untuk pembelian 2 item atau lebih!!!! (Mo marah ga sih? Untung kita bedua emang niat beli!)</p>
<p>Nah&#8230;demikianlah riwayat sepatu olahraga kami ini. Salah satu target di bulan november yang akhirnya terpenuhi! Senang? Ya iyalaaaaaah haaiiiii&#8230;..sekarang tinggal cari waktu olah raganya! HOREEE!</p>
<p>Soal pompa air&#8230;ternyata masih bisa dibetulin! Secara uangnya juga belum ada, dengan ini secara resmi target beli pompa di bulan november dibatalkan yaaaah!!!! He&#8230;&#8230;.(Nge&#8217;les&#8217; mode on)!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/11/26/sepatu-baru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Reuni</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/11/24/tentang-reuni/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/11/24/tentang-reuni/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 13:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu kemarin, 23 November 2008, SMUN 8 mengadakan reuni akbar merayakan 50 tahun keberadaan sekolah tersebut. Sebagai salah seorang alumni yang paling jarang datang ke acara reunian baik yang diadakan secara formal maupun tidak, kehadiran saya benar - benar berutang pada keberadaan facebook yang beberapa minggu sebelumnya mempertemukan saya dengan Shinta, salah seorang sahabat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Minggu kemarin, 23 November 2008, SMUN 8 mengadakan reuni akbar merayakan 50 tahun keberadaan sekolah tersebut. Sebagai salah seorang alumni yang paling jarang datang ke acara reunian baik yang diadakan secara formal maupun tidak, kehadiran saya benar - benar berutang pada keberadaan facebook yang beberapa minggu sebelumnya mempertemukan saya dengan Shinta, salah seorang sahabat waktu SMA dulu.</p>
<div id="attachment_318" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2008/11/2.jpg"><img class="size-full wp-image-318" title="2" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2008/11/2.jpg" alt="Irma,Mona,Tami,Nadin" width="400" height="267" /></a><p class="wp-caption-text">Irma,Mona,Tami,Nadin</p></div>
<p>Setelah kembali dari acara reuni tersebut, saya jadi ingat kembali beberapa kisah sma yang sempat lenyap dalam kenangan ditengah kesibukan keseharian saya. Kisah - kisah itu antara lain tentang SIERA, atau Sie Upacara, tentang 4 sekawan, dan tentang perjuangan.</p>
<p>Saya ingat betapa saya pernah bermimpi jadi anggota pasukan pengibar bendera pusaka. Ketika masuk SMA, sayapun bergabung dalam sie upacara yang kerjanya mondar - mandir latihan baris berbaris dilapangan sampai kulit jadi hitam &#8216;peteng&#8217;&#8230;.(he&#8230;.yang ini bohong&#8230;kulit saya memang sudah hitam dari &#8217;sananya&#8217;). Banyak yang mencemooh. Untuk apa pula ikut ekstra kurikuler model &#8216;tempo dulu&#8217; seperti SIERA. Tapi saya tetap bertahan. Bahkan ketika mimpi untuk berbaris di Istana Merdeka menjadi tinggal kenangan ketika saya akkhirnya diputuskan tidak lolos pemilihan anggota Paskibra di tingkat Jakarta Selatan, saya masih tetap &#8216;nongkrong&#8217; bersama teman - teman, setidaknya sampai bagian awal masa kelas III.</p>
<p>Mungkin teman - teman lain tidak dapat mengerti perasaan bangga yang saya alami dalam hati ketika melihat bendera merah putih itu berkibar gagah diangkasa. Tidak dapat mengerti perasaan bangga ketika langkah kaki dalam keserasian dan keseragaman berbaris hikmad mengantar sang saka ke tiang bendera. Tidak dapat mengerti perasaan yang berkecamuk didalam dada saat mendengar Indonesia Raya berkumandang dengan lantang. Tapi buat saya, semua perasaan itu cukup untuk membuat saya bertahan di dalam kegiatan yang me&#8217;nyiksa&#8217; anggotanya dengan panas terik dan cemooh teman2. Ketika kemarin saya melihat beberapa teman sie upacara&#8230;saya mengingat kembali semua kenangan itu. pahit dan manis.</p>
<p>Tentang 4 sekawan, sebenarnya bukan itu namanya. Kami bahkan tidak punya nama tertentu seperti gank pada umumnya. Saya tidak bisa mengingat bagaimana saya yang notabene hitam, urakan, cuek&#8230;dan anak sie upacara ini, bisa berakhir berteman dengan 3 gadis cantik dengan kulit putih super mulus dan modis; Shinta, Mona dan Egi. Ketiga - tiganya pandai dan  tidak seperti saya, rasanya mereka tidak pernah naik metromini. Setelah lulus ketiga - tiganya masuk fakultas kedokteran UI yang kampusnya di Salemba. Dan meskipun masih satu almamater, saya terdampar di fakultas teknik yang kampusnya ada di Depok. Meskipun berada di teknik memang cita - cita saya (asumsi : mahasiswa banyak&#8230;mahasiswi minim!!!), tak urung saya sedih juga berpisah dengan mereka.</p>
<div id="attachment_324" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2008/11/1.jpg"><img class="size-medium wp-image-324" title="1" src="http://www.beingpersistence.com/wp-content/uploads/2008/11/1-300x200.jpg" alt="Shinta,Nadin,Mona,Tami,Irma,Anto" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Shinta,Nadin,Mona,Tami,Irma,Anto</p></div>
<p>Selama hampir 1 tahun terakhir disekolah, mereka bertiga inilah tempat curhat, teman belanja, dan teman bolos kalau sedang malas les tambahan. Ketika masa persiapan kuliah sudah dimulai, mereka masih dapat berdiskusi dan janjian ketemuan di &#8216;tengah Jakarta&#8217;, sementara saya sibuk menyesuaikan diri dengan kereta api Jakarta - Bogor, bis kampus dan ojek dipinggiran pagar kuning. Ketika reuni kemarin, saya teringat masa dimana saya merasa sangat lelah belajar, dan kemudian wajah - wajah mereka muncul dimata hati saya. Memberi semangat, memacu daya saing&#8230;untuk kembali belajar. Bahkan ketika kami tidak bersama, ingatan tentang mereka tetap memacu saya untuk maju dan menjadi lebih baik lagi.</p>
<p>Saya menyesal menggunakan sepatu hak tinggi, satu - satunya milik saya, waktu reuni kemarin. Berdiri 2 jam saja, rasanya pegaaaaal sekali. Mona datang jam 11 sesuai janji kami&#8230;tapi Shinta baru muncul hampir pukul 1 siang!!! Selain rasa lelah di kaki, banyaknya orang tidak memungkinkan kami bercerita dengan leluasa. Saya sebenarnya ingin mengajak mereka jalan keluar untuk bercerita lebih banyak, tetapi mereka sendiri sepertinya masih ingin berbincang dengan teman - teman lain. Jadilah saya pulang lebih dulu. Di taxi, saya merenungkan masa - masa itu&#8230;</p>
<p>Masa dimana apapun masih mungkin terjadi&#8230;segala sesuatu masih mungkin diraih&#8230; Masa dimana cinta hanyalah pertemuan dan tatap mata. Mimpi hanyalah sejauh belajar sampai dini hari. Hidup hanyalah kemarin dan hari ini.</p>
<p>Betapapun indahnya masa - masa itu, kita semua dipaksa untuk meninggalkannya. Takdir menarik&#8230;menyeret kita, untuk maju, dan bertumbuh. Menjadi dewasa. Suka ataupun tidak&#8230;Disinilah kita berdiri sekarang.</p>
<p>Ya&#8230;disinilah saya berdiri sekarang. Dengan penuh harap menatap kedepan&#8230;dan menyadari, benang merah dari masa lalu itu terjuntai ditangan&#8230;namanya &#8216;perjuangan&#8217;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/11/24/tentang-reuni/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Target Bulan Desember</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/11/22/target-bulan-desember/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/11/22/target-bulan-desember/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Nov 2008 05:26:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Mudah - mudahan di bulan desember depan saya bisa :
Punya waktu libur bareng keluarga setidaknya 1 minggu penuh tanpa mikirin kerjaan !!!!!!!!!!!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mudah - mudahan di bulan desember depan saya bisa :</p>
<p>Punya waktu libur bareng keluarga setidaknya 1 minggu penuh tanpa mikirin kerjaan !!!!!!!!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/11/22/target-bulan-desember/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang malaikat</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/11/11/tentang-malaikat/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/11/11/tentang-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 23:20:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Berjalan tertatih
Menuju cahaya
Yang menjauh
Terjungkal berkali
Tak terkatakan
Kepedihan
Tiap kata makan makna
Dan aku semakin
Melambat ditenggelamkan takut
Ah malaikatku&#8230;
Malaikat malaikatku
Tarik aku
Dalam hangat pelukmu
Kemurnian matamu
Dan keindahan tawamu
Malaikat malaikatku
Tali merah dari surga
Merengkuh hidupku
Damaikan jiwaku
Ajarku takluk
Dalam kerapuhan makin tunduk
Pasti tau
Malaikat selalu
Duduk bersamaku
Malaikat malaikatku
Hadiah Tuhan untukku
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berjalan tertatih</p>
<p>Menuju cahaya</p>
<p>Yang menjauh</p>
<p>Terjungkal berkali</p>
<p>Tak terkatakan</p>
<p>Kepedihan</p>
<p>Tiap kata makan makna</p>
<p>Dan aku semakin</p>
<p>Melambat ditenggelamkan takut</p>
<p>Ah malaikatku&#8230;</p>
<p>Malaikat malaikatku</p>
<p>Tarik aku</p>
<p>Dalam hangat pelukmu</p>
<p>Kemurnian matamu</p>
<p>Dan keindahan tawamu</p>
<p>Malaikat malaikatku</p>
<p>Tali merah dari surga</p>
<p>Merengkuh hidupku</p>
<p>Damaikan jiwaku</p>
<p>Ajarku takluk</p>
<p>Dalam kerapuhan makin tunduk</p>
<p>Pasti tau</p>
<p>Malaikat selalu</p>
<p>Duduk bersamaku</p>
<p>Malaikat malaikatku</p>
<p>Hadiah Tuhan untukku</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/11/11/tentang-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Murni Curhat</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/11/04/murni-curhat/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/11/04/murni-curhat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 17:06:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[1. Arisan Keluarga dan Jakarta
Saya sebal sekali ketika lokasi pertemuan arisan keluarga yang beranggotakan saya, suami, dan 6 orang sepupu saya, dipindahkan dari food court Grand Indonesia ke Plaza Semanggi. Bukannya saya anti plangi, cuma pengalaman membuktikan bahwa plangi yang &#8217;strategis&#8217; itu, biasanya penuh dengan manusia. Jangankan bercengkrama dengan santai, jalan perlahan saja kadang sulit. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Arisan Keluarga dan Jakarta</p>
<p>Saya sebal sekali ketika lokasi pertemuan arisan keluarga yang beranggotakan saya, suami, dan 6 orang sepupu saya, dipindahkan dari <em>food court</em> Grand Indonesia ke Plaza Semanggi. Bukannya saya anti plangi, cuma pengalaman membuktikan bahwa plangi yang &#8217;strategis&#8217; itu, biasanya penuh dengan manusia. Jangankan bercengkrama dengan santai, jalan perlahan saja kadang sulit. Bukan juga mau sok &#8216;bonafide&#8217;, lah wong harga makanannya kurang lebih sama saja&#8230;cuma saja di GI yang luasnya cukup untuk dijadikan alasan <em>window shopping</em> sambil menguruskan badan, kita masih lebih leluasa berjalan..dan jujur saja sih, desain interiornya memang memuaskan mata.</p>
<p>Pertemuan malam itupun bertambah menyebalkan dengan &#8216;kombinasi mematikan&#8217; dari <strong>hujan</strong> dan <strong>hari jumat malam</strong>.<strong> </strong>Saya dan suami yang naik kendaraan umumpun harus puas berjalan kaki ditengah gerimis sampai ke Bendungan Hilir. Saya tidak mengeluhkan jalan kakinya, karena naik kendaraanpun bisa bikin saya pusing dengan kemacetan yang ada. Saya malah senang dapat kesempatan jalan kaki berdua suami&#8230;cuma pedestriannya itu loooh&#8230;ya ampuuun!!! Saya tidak habis pikir kenapa bahan licin itu yang dipilih untuk pedestrian lebar dipinggir jalan protokol. Belum lagi pengerjaan yang tidak sempurna, dengan lubang dan tumpukan conblock disana sini. Masih ngedumel tentang pedestrian, saya menaiki tangga busway yang lempengan <em>flooring</em>nya mulai lepas dihampir semua bagian sambungan.<em> Haduh&#8230;.</em>Jakartaku&#8230;jakartaku&#8230;</p>
<p>2. Pekerjaan dan keluarga</p>
<p>Siapa sih yang tidak senang dapat kesempatan bekerja dan menerima uang hasil jerih payah? Cuma kalau tenggat waktu yang diminta terlalu tipis, yang ada <em>panic attack </em>dan <em>high voltage</em> (baca : stress)! Saking pengennya memberikan hasil optimal dipekerjaan, saya menetapkan target yang cukup tinggi untuk dicapai dalam waktu singkat. Alhasil keluarga jadi korban pertama. Saya kehilangan waktu untuk bersantai diakhir pekan bersama anak - anak dan suami, juga om dan tante yang datang dari Makasar. Untung saja masih sempat tidur (sebenarnya ketiduran ;p) kalau tidak pasti saya akan <em>teler</em>. Saya jadi merasa bersalah&#8230; disatu sisi saya ingin menghabiskan waktu bersama malaikat2 kecil itu (dan memastikan mereka tidak berpindah pihak ke tanduk, garpu dan ekor) tapi disisi lain saya merasa perlu memberikan komitmen pada pekerjaan yang sudah dipercayakan ke saya. <em>Haduuuh&#8230;</em>susah juga ya mau jadi milyarder&#8230;(hihihi&#8230;&#8230;..<em>ngarep</em> boleh dong!!!)</p>
<p>3. Blogger dan Facebook</p>
<p>Dan ini nih yang paling nyebelin. Saya baru sempat lagi berkunjung ke rumah teman2 di dunia maya.Baru sempat juga membalas buah tangan yang sudah menumpuk dirumah. Sungguh kejutan yang menyenangkan! Belum lagi kawan - kawan lama yang perlahan bermunculan di fb. Serasa dunia mundur menampilkan flash back masa - masa  disaat kami bersama mengalami suatu peristiwa untuk kemudian maju lagi ke masa kini bersama kabar terbaru mereka. <em>Haduuuh&#8230;.</em>baru tau, jadi blogger itu sibuuuuk kaliii ya!!!!he&#8230;&#8230;</p>
<p>4. Target yang tidak tercapai</p>
<p>Hiiiiks&#8230;.Sandal teplek yang jadi target bulan oktober tidak sampai terbeli. Demikian juga rencana berburu novel Barbara Cartland ke pasar Senen. Krisis ekonomi tidak saja melanda dunia global tapi juga dunia nadin&#8230;hikkks&#8230;<em>Haduuuuh&#8230;.</em>semoga para ekonom mampu memperbaiki kondisi ekonomi si global yang sering disebut - sebut ituh!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/11/04/murni-curhat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Dunia Blogger</title>
		<link>http://www.beingpersistence.com/2008/10/24/tentang-dunia-blogger/</link>
		<comments>http://www.beingpersistence.com/2008/10/24/tentang-dunia-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 17:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadin Asmarandjani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.beingpersistence.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Saya terpana menatap tampilan demi tampilan di layar komputer.
Saya sungguh - sungguh tidak menyangka bahwa layar kotak (beserta seluruh perlengkapannya) didepan saya ini dapat menjadi alat komunikasi bagi begitu banyak manusia.
Saya ini salah seorang ( tidak mungkin cuma saya kan?&#8230;.kan? )manusia gagap teknologi. Gagap dalam pengertian maunya cepat selesai tapi malas belajar. Jadi kalau ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya terpana menatap tampilan demi tampilan di layar komputer.</p>
<p>Saya sungguh - sungguh tidak menyangka bahwa layar kotak (beserta seluruh perlengkapannya) didepan saya ini dapat menjadi alat komunikasi bagi begitu banyak manusia.</p>
<p>Saya ini salah seorang ( tidak mungkin cuma saya kan?&#8230;.kan? )manusia gagap teknologi. Gagap dalam pengertian maunya cepat selesai tapi malas belajar. Jadi kalau ada urusan yang berhubungan dengan teknologi: penggunaan handphone yang terlalu canggih, internet, program baru komputer, bikin alamat email, buka account facebook sampai kepada layar monitor yang tidak mau nyala, saya memilih untuk menoleh ke lelaki disebelah kiri saya dan jual senyum manis sambil memohon; sayang&#8230;.kok ini begini ya?</p>
<p>Lelaki ini pula sebenarnya asal muasalnya saya sampai menulis di blog ini. Dia paksa saya menulis satu artikel sehari, dan <em>ngedumel</em> sampai saya kesal dan akhirnya mulai menulis.</p>
<p>Saya sendiri tidak pernah tertarik menulis blog. Boro - boro menulis. Blog itu apa saja, saya baru tahu setelah tidak sengaja membaca majalah di salon (bayar cuci blow, baca majalah gratis sebanyak - banyaknya&#8230;;p). Saya menggunakan internet hanya untuk mencari data yang dibutuhkan. Itupun jarang sekali saya lakukan. Intinya, kalau tidak perlu berada didepan komputer, saya langsung kabur untuk melakukan aktivitas lain. Ketika orang - orang ribut soal friendster saya tidak merasa perlu untuk tau lebih lanjut. Saya lebih memilih telepon atau sms. Tapi untunglah lelaki ini <em>persistence</em> menyuruh saya membuka account fb (pada akhirnya dia yang buatin&#8230;he&#8230;).</p>
<p>Facebooklah yang membuat saya untuk pertama kalinya betah berada didepan komputer berlama - lama. Melihat kabar teman - teman lama, membaca cerita - cerita mereka, ikutan forum diskusi, ternyata memberikan cakrawala baru buat saya.</p>
<p>Hidup yang tadinya terpusat pada pekerjaan dan keluarga, seakan - akan terkoneksi dengan ribuan kehidupan lain di tempat yang berjauhan. Batas - batas hiburan yang selama ini berupa tontonan nyaris tidak berguna (tv nasional), sedikit menghibur (astro&#8230;sekarang mati pula!), dan buku - buku bacaan, tiba - tiba saja meluas kepada cerita dan pengalaman pribadi - pribadi baru yang belum pernah aku temui sebelumnya.</p>
<p>Saya ketagihan. Untung saja masih ada anak - anak (dan suami) yang harus diurus, kalau tidak, bisa 24 jam saya <em>ngendon</em> di depan monitor.</p>
<p>Saya terpana menatap dunia luas yang menyediakan begitu banyak cerita. Tentang sudut - sudut pandang baru. Tentang pertentangan. Tentang penghargaan. Tentang hidup.</p>
<p>Jika saya terpana dengan perasaan kecut melihat web site yang mengusung tema kebencian, kemarahan dan permusuhan, maka saya terpana sambil bersyukur melihat blog - blog berisi cerita penuh pengetahuan, pengalaman yang menyentuh, foto - foto indah, kisah - kisah lucu dan komentar yang mengundang tawa.</p>
<p>Betapa dunia ini masih penuh dengan harapan&#8230;setidaknya di dunia blogger!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.beingpersistence.com/2008/10/24/tentang-dunia-blogger/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
