Juni dan Nabila
By Nadin Asmarandjani | 3 CommentsLeave a Comment
Last updated: Wednesday, March 25, 2009 | 536 Views

Sepupu saya yang usianya 25 tahun, tutup usia 2 minggu yang lalu setelah terbaring koma selama hampir 2 minggu di RS. Cikini - Jakarta.

Sejak keluar dari rumah sakit untuk pertama kalinya setelah divonis gagal ginjal sekitar bulan april - mei 2008, Junius Andrina Bellany, tinggal bersama kami sekeluarga dirumah. Karakteristiknya yang pendiam dan tertutup sempat terlihat berubah khususnya menjelang akhir tahun 2008 yang lalu. Ia mulai sering ngobrol, dan penuh perhatian terhadap anak - anak saya yang memang menjadi tim penghibur di rumah. Namun demikian, ternyata ia tetap tidak mau menceritakan banyak hal - hal penting yang menurutnya dapat merepotkan keluarga.

Ketika saya dan suami menemukan ia menangis dirumah dalam dekapan pacarnya, kami baru tau bahwa ternyata dia sudah harus ganti alat cuci darah yang terpasang ditubuhnya sejak beberapa minggu sebelumnya. Kami juga baru tau bahwa beberapa hari terakhir ternyata ia sudah merasa sesak dan seharusnya segera menjalani proses cuci darah. Ia merahasiakan fakta - fakta tersebut karena selain kondisi tidak punya uang untuk menjalani operasi ganti alat, ia juga tidak mau merepotkan keluarga.

Ketika akhirnya ia masuk ke rumah sakit dalam kondisi yang kritis, keluhan terakhirnya mengungkapkan bagaimana ia kecewa terhadap ibunya yang tidak berada disisinya saat itu. 3 hari kemudian saat menjalani operasi pergantian alat cuci darah, tekanan darahnya mencapai 250 dan iapun jatuh dalam koma.

Saat menunggu di rumah sakit, saya mengungkapkan kecurigaan saya yang merasa bahwa semangatnya terus turun setelah mendengar kabar bahwa ibunya, seorang tkw di Riyadh, tidak dapat pulang sesuai waktu yang dijanjikan karena alasan kontrak dan administrasi. Kecurigaan itu dikonfirmasi oleh kakak dan kakak iparnya yang menceritakan bagaimana Juni sempat datang kerumah mereka untuk curhat mengenai kekecewaan terhadap ibunya yang tidak dapat pulang tepat waktu.

Saat koma, ibunya sudah diminta untuk mengurus kepulangan ke Indonesia. Apa daya, sampai Juni dikuburkan, ibunya tetap tidak mendapatkan izin kembali pulang ke Indonesia. Ia diminta untuk menyelesaikan kontrak kerja sampai agustus, atau membayar sekitar 25 ribu real jika tetap memaksakan dipulangkan pada saat itu.

2 hari yang lalu, sepupu suami saya yang baru berusia 2 tahun 8 bulan, juga menghembuskan nafas terakhirnya.

Nabila memang sempat beberapa kali masuk rumah sakit karena gagal ginjal, namun hari itu tidak ada tanda - tanda kesakitan yang mencurigakan. Paginya ia sempat makan bersama bundanya meskipun sedikit manja dan melarang bundanya mandi. Tak lama ia mengeluh sakit perut, dan pingsan ketika digendong oleh ayahnya. Ia dibawa ke rumah sakit terdekat di Bekasi, namun dirujuk ke Cipto Mangunkusumo. Dalam perjalanan yang sangat macet menuju RS Cipto, ia meninggal di tengah perjalanan.

Teman - teman blogger…

Betapa kecilnya kita sebagai manusia…

Kita mungkin punya uang, tapi kehilangan kesempatan.

Kita mungkin punya kesempatan, tapi tidak punya uang untuk mewujudkan harapan.

Sebagai orang tua, kita mengupayakan segalanya untuk anak - anak kita…tapi apakah pengorbanan kita menyediakan sungguh kualitas - kualitas kehidupan terbaik untuk mereka?

Sebagai anak, kadang kita merasa kita mampu berdiri sendiri, berjalan sendiri dan tidak lagi bersandar pada orang tua kita…tapi apakah kemandirian kita menjadikan kita lupa terhadap jasa dan cinta mereka?

dan saat mereka yang kita cinta, harus pergi menghadap Sang Khalik…

ikhlaskah kita dalam segala pikir, ucap dan laku?

Dalam kegalauan, saya membisikan doa…permohonan maaf kalau selaku orang tua tidak sempurna, permohonan maaf kalau selaku anak tidak berbakti, permohonan maaf kalau selaku pribadi tidak simpati.

Dan memohon dengan segala kerendahan hati…kiranya Yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi mengizinkan saya dan keluarga saya, dalam kehidupan ini, menempuh jalan yang benar dalam memberikan yang terbaik bagi orang - orang yang telah dianugerahkan pada kami.

Comments

3 comments
  1. nh18
    March 25, 2009

    Dine …
    saya termangu-mangu …
    terdiam beberapa saat …
    merenungi semuanya … setelah membaca tulisanmu …

    ada banyak hal …
    nurani yang entah kemana … kontrak kerja ? … administrasi ..?
    kesedihan … nasib anak manusia yang demikian beragam …

    But yang jelas …
    Betul kata kamu …
    Yang kita bisa lakukan saat ini adalah …
    Selalu bersyukur dengan apa yang telah kita dapat hari ini …
    seraya tidak lupa untuk berbuat baik pada orang lain …
    lebih baik lagi …
    setiap hari
    setiap saat

    salam saya Dine …

    nh18’s last blog post..DAVID FOSTER

    Leave a reply
  2. dyahsuminar
    April 8, 2009

    Manusia sangat tak berdaya….
    semua kehendak adalah milik Allah,yang harus kita lakukan hanya berusaha ya mbak….

    dyahsuminar’s last blog post..“jangan stress “…. kawan….

    Leave a reply
  3. prabham wulung
    April 20, 2009

    kehilangan 2 orang terdekat dalam waktu bersamaan pasti berat. turut berduka cita din. salam untuk seluruh keluarag, suami dan 2 putri terkasih

    prabham wulung’s last blog post..Tol

    Leave a reply

Leave a Comment