Ini adalah cerita tentang dunia tari dan sahabat - sahabat yang saya temui didalamnya.
Ibu saya mengikut sertakan saya dalam sanggar tari daerah dekat rumah sejak saya berusia 3 tahun. Ia kemudian melihat bahwa saya secara khusus sangat menyukai tari bali, sehingga akhirnya saya dipindahkan ke sanggar khusus tari bali. Sanggar Aditya Warman asuhan Ibu Dayu, berada di Pura dekat rumah kami. Di sanggar inilah dasar - dasar gerakan tari saya dibentuk.
ketika duduk di SMP saya pindah sanggar ke Widya Budaya, asuhan Bp. Agus Perbawa dan Ibu Sukarni (saat itu di jalan Veteran, Jakarta Pusat) karena sanggar lama di tutup oleh pihak Pura. Sanggar ini merupakan sanggar yang lebih besar dan bisa dikatakan masuk dalam tataran profesional karena pentas yang dilakukan sudah bersifat komersial. Meskipun inti pelatihan tetap tarian Bali, tapi kami juga wajib menguasai beberapa tarian daerah lain yang harus sering dipentaskan seperti tarian Aceh, tarian Sunda, Betawi dan Padang. Latihan tari dilakukan pada malam hari, 2 kali seminggu, sementara ada pementasan hampir setiap minggu.
Inilah sahabat - sahabat saya di sanggar ini; Ada Iva, anak kolong yang waktu SMA dulu nakal sekali sampai 3 kali pindah sekolah!hi…(yang penting sekarang kan sudah jadi Ibu yang manis yah va!), ada Dyah, Lia, Vera, Nita. Ada Tanti yang notabene adalah tetangga depan rumah saya juga, ada Dayu Reti dan Dayu Sanis, kakak beradik cantik yang asli orang Bali, Nanet dengan rambutnya yang super panjang sehingga kalau pentas tidak perlu rambut palsu lagi, Iin dengan lesung pipit yang super dalam, Lavi yang kurus dan kalem sekali, Sari yang ceplas ceplos, dan Poppy dengan rambut keritingnya yang khas.
Dari panggung kecil dengan alas papan kayu yang seratnya keluar sehingga melukai kaki (pementasan di acara 17 agustusan RT/RW), sampai panggung terang benderang di berbagai convention centre dan gedung pertemuan…dari lantai aspal yang panas di lapangan terbang (sewaktu menyambut tamu negara dalam acara KTT Non blok tahun 1992) sampai pementasan di Istana Negara…dan tentu saja, pengalaman seru ketika pentas di Nagoya dan Kolombo…semuanya saya lewati bersama sahabat - sahabat saya tersebut.
Berbagai kesulitan menjelang pentas; ketinggalan atribut pakaian, salah bawa kostum, salah pasang konde,…sampai masalah diatas panggung; lupa gerakan, salah posisi, anting nyangkut di selendang, kain terinjak teman, atribut ada yang lepas, kipas salah warna, soundsistem mati ditengah tarian….semuanya membuat kami semakin dekat dan kompak…saling membantu dan menutupi, yang terpenting pentas berlangsung lancar dan memukau para penonton.
Jangan salah…seperti bidang - bidang lainnya, dunia tari juga memiliki tingkat persaingan tinggi dan ketat. Jika tidak mampu menghafal gerakan dengan cepat, melakukan banyak kesalahan saat pementasan, sering tidak ikut latihan, dan tidak mampu menjaga berat badan ideal, jangan terlalu berharap akan sering diikut sertakan dalam pentas.
Namun semuanya terasa terbayar sudah ketika tepuk tangan penonton menggemuruh. Kerja keras berupa latihan bertahun tahun, terproyeksi dalam pentas sepanjang 3 sampai 5 menit diatas panggung…dalam waktu yang singkat itu kami menyatukan jiwa kami dalam gerakan dan alunan musik.
Sudah 3 tahun berlalu sejak terakhir saya menari panggung profesional…dan sekian tahun sejak menari bersama - sama sahabat sahabat yang saya sebutkan diatas. Betapa saya merindukan ruang - ruang rias dan tempat ganti kostum dibelakang panggung…lampu sorot yang panas menyilaukan, suara gamelan membahana, dan tentu saja, gelak tawa lepas bersama sahabat - sahabat saat menikmati nasi bungkus dan air minum kemasan!











February 23, 2009
haduh…kalo liat gadis-gadis menari itu kok ya mulut bisa menganga, mata terpaku, terpesona melambung tinggi lah pokoknya…
seneng ngeliatnya….
tapi sayang, belom pernah liat geng-nya nadin nari…
February 24, 2009
Semua dimulai dengan kemauan untuk bisa menjadi PENARI. Bukan PONARI…iya kan?
BTW bicara tentang dancer…saya salut dengan warga Bali yang sudah melatih anak2 kecil untuk tetep mempertahankan budayanya. Great one Thumb for them…And Two Thumbs for you Nadin…Karena tidak membuat aku ingin jadi penari…apa jadinya kalo gerakan saya yang kaku ini di pamerkan…di bilang breakdance bukan….ya tooooh :D
Pakde’s last blog post..Oh…Noooooo
February 24, 2009
Menari merupakan proses untuk melatih olah gerak tubuh kita….selain menyenangkan (diiringi musik), juga membuat tubuh berbentuk ideal.
Saya dulu suka menari Jawa…yang sayangnya setelah kuliah di jawa Barat tak bisa diteruskan, karena sibuk kuliah dan praktikum
edratna’s last blog post..Mencoba makanan di “Omah Sendok”
February 24, 2009
@ Bunda Edratna….kalau sambil praktikum nggak bisa ya bun..???
February 24, 2009
dear bung gerrilyawan,
kalau tau bung penikmat tarian, pasti sejak kuliah dulu sudah adinda ajak menonton pertunjukan tari adinda…tapi tampaknya bung selalu sibuk dikelilingi para wanita, adinda sungguh tidak berani mengganggu bung, jangankan lagi mengharapkan bung datang…akh…sayang sekali ya bung…
dear pakde,
wekekeeeeeeeeeeeeeekekeee (ketawa dulu ah)
SETUJU pakde…saya sungguh tidak berniat menjadi pengikut ponari…
SETUJU juga…saya salut pada warga bali, pada kecintaannya pada budaya, pada keinginan keras mempertahankan tradisi
tapi saya tidak setuju pakde tidak mau jadi penari…saya yakin, begitu didengarkan suara gamelan dan diajak ngibing, pasti pakde yang nomor satu berdiri!!!
satu lagi pakde….LAGI PRAKTIKUM YA GA BISA SAMBIL LATIHAN NARI dong pakde!!! nanti meja praktikumnya kedorong sanasini!!! =))
dear bu ratna,
wah, sayang sekali bu…pasti sekarang suka kangen ya bu? Saya tidak terlalu banyak menguasai tarian Jawa, mungkin karena saya orangnya tidak terlalu sabar dan kalem sebagaimana karakter yang dituntut oleh kebanyakan tarian Jawa bu…jadi jiwanya lebih cocok dengan tarian Betawi (ya ialah…masih ada darahnya…he….bisa ga diaku sama ayah kalau ga mau belajar nari Betawi), tari Bali yang memang dinamis musiknya, atau tarian Aceh dan Minang yang agresif gerakannya. Salut deh buat ibu dan para penari Jawa….ketahanan fisik dan kelembutan tariannya sungguh memerlukan latihan yang disiplin dan keras…ya kan bu?!
February 25, 2009
Wow keren … Nagoya … Kolombo …
Karena Menari …
Asik ini Din …
En BTW …
Bukannya mau sok-sok kebetulan atau gimana …
tapi jika berkenan coba kamu baca deh tulisanku yang ini … (edisi tgl 26 Maret 2008)
http://theordinarytrainer.wordpress.com/2008/03/26/penari/
nh18’s last blog post..UJIAN ELEKTRO