Nice Girls Don’t Get Rich - 75 Kesalahan Perempuan dalam Mengelola Uang, oleh Lois P. Frankel, Ph.D, adalah sebuah buku yang saya beli karena saya sebal dimarahi dan terus menerus disebut - sebut sebagai ‘The Big Spender’ oleh suami saya (Saya kan seorang Istri! Seorang Ibu! Saya memang diciptakan untuk menghabiskan uang bukan?!). Saya lebih sebal lagi karena menurut saya, saya juga turut memberikan kontribusi bagi kondisi keuangan negara..maksud saya keluarga. Saya juga bekerja, dan hasil yang saya dapatkan juga saya pakai untuk pengeluaran keluarga. Saya bahkan tidak memiliki tabungan pribadi karena semua yang saya dapatkan pasti saya pakai untuk keperluan keluarga. Jadi saya sebal. Dan dalam kesebalan itu, saya belilah buku ini. Saya pikir saya dapat menemukan jawaban yang bisa meng’counter’ tuduhan suami saya dan pada akhirnya memberikan dukungan bagi saya untuk melanjutkan gaya hidup saya apa adanya.
Salah. Saya salah beli buku maksudnya. Setelah hampir 8 bulan lamanya berputar antara meja kerja, meja kamar tidur, terselip di sela tempat tidur, lalu kembali lagi ke meja kerja, akhirnya…saya berhasil menyelesaikan membacanya…untuk apa? Untuk menemukan bahwa cara pikir saya selama ini bukanlah cara pikir yang baik…dan malah memberikan alasan yang jelas kenapa orang seperti suami saya ‘terganggu’ dengan cara saya membelanjakan uang.
Buku ini memang secara khusus dibuat untuk wanita di Amerika. Terdapat banyak link sebagai sumber data dan tips - tips berkaitan dengan peraturan perekonomian dan perpajakan di Amerika yang memberikan kemudahan bagi para wanita untuk mencari informasi dan menambah wawasan di bidang ekonomi. Namun bukan berarti kita tidak dapat mengambil prinsip - prinsip dasar yang dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari - hari sebagai wanita Indonesia.
Saya bukan orang finance. Nilai akuntansi saya maksimal 7 dari SMP sampai SMA. Kalau menghitung, tidak PD kalau tidak pakai kalkulator, (bahkan perkalian sederhana sekalipun!hi…) Saya juga tidak bermaksud men’summary’kan isi buku ini. Tetapi saya ingin berbagi ‘ilmu’ yang saya dapatkan dari buku ini. Saya harap apa yang saya sharingkan ini, sekecil apapun, dapat berguna bagi teman - teman blogger..khususnya para wanita Indonesia!
1. Saya seringkali merasa bersalah kalau berbelanja hanya untuk keperluan pribadi, contoh mudah misalnya ke salon. Untuk meng’hindari’ rasa bersalah itu, setelah dari salon biasanya saya kemudian membelikan orang lain (suami, anak, orang tua) sesuatu. Memberikan sesuatu untuk orang yang kita cintai sama sekali tidak salah. Tetapi jika membelikan sesuatu untuk menghindari rasa bersalah adalah hal yang perlu kita waspadai. Sekarang saya sadar bahwa saya tidak perlu merasa bersalah membelanjakan uang untuk keperluan saya pribadi, selama itu adalah sesuatu yang saya butuhkan, saya inginkan dan bermanfaat untuk saya. Dengan cara pandang ini, saya menjadi lebih terencana dalam membelanjakan uang untuk keperluan pribadi karena biar bagaimanapun juga saya tidak dapat membahagiakan orang lain kalau saya tidak merasa bahagia, dan yang pasti saya tidak lagi membeli barang - barang yang tidak penting hanya karena ingin memendam perasaan bersalah.
2. Saya menyadari bahwa ternyata sebenarnya saya ini bisa disebut pemalas. Saya malas mencatat pemasukan, apalagi pengeluaran…saya malas menyisihkan waktu untuk merencanakan keuangan keluarga. Buku ini memperlihatkan bagaimana kemalasan itu membuahkan begitu banyak penyesalan…pengeluaran yang tidak terkontrol..kesia - siaan waktu dan uang…dan yang lebih menyedihkan, hilangnya kesempatan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Saya sudah memulai langkah memperbaiki diri dengan menetapkan anggaran pengeluaran. Jika bukan karena hal - hal yang sangat penting dan mendesak, anggaran pengeluaran adalah angka maksimal yang boleh dikeluarkan dari kantong. Mudah? Tentu saja tidak. Selalu ada alasan. Tapi setidaknya dampak positifnya sudah mulai terlihat. Saya segera menyadari pos - pos pengeluaran yang terlalu besar dan melakukan penghematan diberbagai tempat. Melakukan disiplin dengan merencanakan pembelian keperluan pribadi. Contoh gampangnya adalah membeli sepatu dan tas kerja maksimal 1 kali setahun! Terlihat sepele? he….ayo, saya tantang untuk mencoba!
3.Perempuan harus selalu siap belajar. Ini pemikiran penting yang menginspirasi saya dari buku ini…namun sayangnya belum sempat saya lakukan sampai sekarang…belajar tidak hanya mengatur pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga hal - hal penting terkait dengan keuangan masa depan: tabungan, investasi, ….yang lebih ‘mengerikan’; pajak. Mungkin saat ini pemerintah Indonesia belum menerapkan peraturan pajak sedemikian sampai setiap keluarga harus mengurus dan melaporan laporan pajak tahunannya sendiri, tapi hal itu tentu akan terwujud di masa mendatang. Keengganan belajar tidak saja mendatangkan kebodohan, tetapi juga kerugian. Buku ini menceritakan banyak kasus mengenai hal tersebut. Saya juga salah satu orang yang hanya berniat menabung….(he….sampai sekaranpun masih niat….wekekekeeee…), tapi buku ini mengajarkan bentuk lain tabungan; investasi. Saya antipati sekali pada hal tersebut dulu…terlihat seperti halusinasi belaka, dan rasanya berisi tipuan semua…he…..maklum, konservatif minded kalau soal uang. Namun saya melihat sisi lain investasi, khususnya bagi perempuan, dalam buku ini.Yahh, meskipun saat ini belum dalam kapasitas untuk bisa ‘berinventasi’ skala besar, setidaknya saya sudah tidak antipati lagi, dan mulai mampu berpikir secara lebih terbuka terhadap kesempatan - kesempatan mempersiapkan masa depan, khususnya bagi anak - anak saya. Semoga dikemudian hari saya (dan juga anda para sahabat blogger) diberi kesempatan tidak saja untuk belajar, tetapi juga untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan kita masing - masing….demi masa depan yang lebih baik bagi kita semua!!!!……..-amin-


January 12, 2009
Hehehe…jadi udah tahu letak masalahnya?
Sejak masih lajang saya punya register belanja, untuk ngecek seberapa boroskah saya? Maklum kalau ada apa2 , sebagai anak sulung, ortu tak mungkin mengirim uang lagi, jadi mau tak mau ya di cukup-2kan. Jika kurang bagaimana? Berusaha cari uang tambahan. Ini yang saya tekankan pada anak2ku, sejak semester 3 mereka udah dapat uang tambahan dari menjadi asisten dll.
Setelah menikah…malah wajib mencatat, agar setiap kali tak bentrok dengan suami.
Menyenangkan diri sendiri wajar kok, seperti ke salon dsb nya, asal tak kebablasan, seperti embel2 belanja lagi ….Bukankah kalau isteri dan ibu cantik, anak-anak dan suami senang?
edratna’s last blog post..Apa sebaiknya pindah ke pra bayar ?
January 13, 2009
HHmmm … judulnya serem amat yak …
But saya tersenyum membaca pooint ke 2 : malas mencatat pemasukan … dan pengeluaran …
ini beda banget sama “menteri keuanganku” …
Dia teliti … teliti sangat …
(hehehe apa lagi tentang pengeluaran ku …)
Hahahaha
Salam saya Dine …
nh18’s last blog post..DEWA DAN OKKY LUKMAN
January 13, 2009
Din, kayaknya akupun harus belajar hal yang sama deh….
Prestasi boros dirimu cuma separuhnya prestasiku….
Hikz….
January 13, 2009
Mbak..mbak, believe it or not, aku dari SMP udah bikin catetan pengeluaran uang saku-ku..!! Huahaha..serem banget kalo dipikir2.. Anak sekecil itu mau ribet2 bikin pembukuan.
Tapi bener2 skrg jadi malah setres kalo ga dibukukan, apalagi udah merit gini yg semakin complicated pos-pos pengeluarannya. At least kalo udah dibukukan, duit kmana ilangnya bisa ktauan. Jadi, walopun sama2 aja UDAH GA ADA SISAnya, tapi kalo tau ‘jadi apa en kemana aja’ larinya si duit tuh, bisa lebi tenang hatiku.. Ahahaaa.. :D
gamma’s last blog post..dilematis
January 13, 2009
dear bu enny,
ia bu, kalau kita cantik dan bahagia, pasti orang - orang disekitar kita juga ikut! he…..soal pencatatan, memang jadi malas sejak bekerja dan dapat uang sendiri…dulu saat dapat uang dari orang tua, laporan pasti jelas dan tepat waktu, ketika sudah punya uang sendiri malah teledor…he…
dear om trainer,
heeeee…..sekarang sudah mulai rajin om….dan memang benar, lebih semangat lagi mencatat pengeluaran suami! heee…..
dear wahyu…
O O…….yu….mulailah mencatat!!!! secara sekarang bukan cuma buku yang pengen dibeli ya pak? he…..makanya pacar satu aja, banyak2 malah bikin makin bingung dan menambah pengeluaran tau!!! wekekeeeee……
dear gamma,
ia ma, dulu juga begitu, apalagi pas smp / sma dapat uangnya mingguan…catetan rapih tenan…sejak kuliah mulai ga laporan lagi….pas kerja malah ga nyatet…whaduuuh…hikikikkkk….
January 14, 2009
Saya juga sering seperti suami mBak, nanya ke istri “lho yg kemaren itu sudah habis to?” Untungnya istri saya cukup sabar (meskipun kadang saml merengut) untuk menjelaskan keperluan untk ini - itu … Akhirnya yg penting komunikasi dan saling pengertian saja, yg mudah dkatakan tapi lumayan sulit untuk melaksanakannya.
Oemar Bakrie’s last blog post..Sedikit tentang humor
January 14, 2009
saya dan istri mempunyai kebiasaan yang sama mencatat hal-hal masalah pengeluaran…tapi yang suka ngambek kalo terjadi ketidak cocokan dalam pengeluaran adalah saya hehehehe padahal yang doyan belanja saya
January 14, 2009
Hehehe…
Aku adalah perempuan paling boros sedunia…
jadi baca posting ini cuman ngerasa, “OMG!” :D
jeunglala’s last blog post..…in my rainy days
January 16, 2009
wah, nice post and tips .. saya links ya
hilal achmad’s last blog post..breaking the limit
January 17, 2009
dear Pak Oemar,
he…betul pak…memang saling pengertian itu mudah diucapkan, sulit dilakukan…malah terkadang pada hal - hal kecil. kalau cemberut dan merengut, takut dibilang tidak bersyukur…kalau menjawab sekenanya, takut dibilang tidak hormat pada suami…wekekekekee……padahal sebagian besar alasannya, karena malas menjelaskan pengeluaran yang memang panjang daftarnya…apalagi kalau soal tetek bengek rumah…pengennya tuh jawabnya “sudah habis…” lalu dijawab…”ooo…ya sudah, besok ambil saja lagi di atm…10 juta saja cukup kan buat sampai akhir minggu?”…naaaahhhh…yang kaya begini nih, jawaban paling asik punya!!! =) kekekkeekekekeeeee……..
dear Omiyan
wahhh…kalo ngambek, kayanya memang jalan keluar paling gampang buat para pria deh biar ga disalahin duluan!! Haahahhaaa….peace!!!! Salam kenal ya..terima kasih sudah mampir, semoga dikemudian hari semakin sedikit selisih pencatatannya…he…..
January 19, 2009
Oh ya ? Tapi ada kan ya gadis kaya yang manis hehehe :)
Salam kenal ya Mbak Nadin …
Salam hangat
Ben
ada juga di : http://benagewe.blogdetik.com
Ben’s last blog post..Mak Byarrrr
January 23, 2009
nabung mbaaaak, penting tuh, punya account tabungan sendiri juga amat sangat penting. saya mengalami sendiri kegunaan mempunyai account tabungan pribadi. jangan tunda lagi untuk nabung. salam
ami’s last blog post..keterbukaan
February 9, 2009
mbak Nadin…apa kabar ??
He..he..he…baca posting ini Bunda mesam mesem….Lha kalau dirumah,di perusahaan …Bunda dijuluki itungan banget…artinya apa apa diitung..
Bener mbak…apa apa mesti direncanakan,karena perempuan sering nggak rasional kalau mengeluarkan uang….kadang yang gak penting penting itu malah dibeli…he..he…lapar mata..
dyahsuminar’s last blog post..Persembahanku…
February 13, 2009
dear jeunglala..
wekekeeee…..OMG juga mba…melihat level narsisnya si jeung, kebayang sih ‘doyan’ belanjanya jeung lala seperti apa….hikikik…..
dear bang hilal..
halo bang…salam kenal! maaf baru sempat balas ya! senang bisa berbagi!
dear mas ben..
ihhhh….kalau itu sih pasti ada!!! saya sih udah manis…mudah2an ‘kaya’nya segera menyusul!wekkekeeeee…..
dear mba ami,
ia..harapannya juga gitu mba, mudah2an segera dapat kesempatannya. saat ini semua ‘kelebihan’ masih digunakan untuk keperluan usaha lagi mba…jadi yah mudah2an kesempatan untuk memiliki tabungannya dilancarkan oleh Pemberi Rezeki.
dear bu dyah..
he…benar sekali bu. kalau tidak dijadwalkan atau direncanakan dengan seksama pengeluaran para perempuan memang sungguh ‘logically unreasonable’…hiihihihhhiiiii….
nadin’s last blog post..Gadis manis sulit menjadi kaya
February 21, 2009
Boleh nih.. buat bekal nanti kalau udah berkeluarga hehe..
Merencanakan tapi ga boleh menyepelekan mencatat juga.. agak susah tuh..
Anyway, keep writing.. met kenal.. ^^
BeBe Gunawan’s last blog post..Kaitan Suka-Duka