Syekh Puji dan Wanita Indonesia
By Nadin Asmarandjani | 16 CommentsLeave a Comment
Last updated: Monday, October 27, 2008 | 1651 Views

Layar tv itu menampilkan sosok seorang lelaki dengan jubah putih dan tasbih ditangan. Beliau dipanggil Syekh Puji. Beritanya ditampilkan semua tayangan infotainment. Terima kasih kepada Astro yang harus tutup toko, saya terpaksa melahap apa yang disajikan tv nasional tanpa punya pilihan lain. (Ada Metro TV sih…tapi lebih seru berita ini!)

Orang - orang meributkan pernikahannya dengan seorang gadis berusia 11 tahun…dan rencananya untuk menikahi 2 orang anak gadis lagi yang berusia 9 dan 7 tahun. Pro dan kontrapun kembali terjadi.

Secara tradisi, menikah di usia muda bukanlah hal yang aneh terjadi di Indonesia. Nenek mertua  saya (alm) menikah di usia 9 tahun. Saya ingat, dulu pernah punya pembantu yang dijemput pulang untuk dinikahkan di usia 14 tahun. Bertahun - tahun yang lalu saudara - saudara sepupu saya sendiri yang orang betawi asli banyak yang menikah diusia belasan tahun. Syarat pentingnya biasanya cuma satu; sudah mengalami menstruasi.

Menurut saya tradisi ini terikat erat dengan perkembangan budaya masyarakatnya. 15 tahun yang lalu masih ada lapisan masyarakat yang berpikir bahwa perempuan itu tempatnya di dapur dan di kasur. Tidak perlu sekolah tinggi - tinggi karena nantinya akan jadi pelayan anak dan suami.Menstruasi menjadi hal yang tabu sekaligus menduduki posisi penting karena menjadi penanda kematangan dan kedewasaan fisik dan mental seorang wanita.

Tapi budaya pun mengalami perubahan seiring berubahnya pola hidup masyarakat. Uang menduduki prioritas penting. Muncul kesadaran bahwa diperlukan pendidikan tinggi untuk memperoleh kedudukan yang berbanding lurus dengan penghasilan. Kehidupan ekonomi yang terus menghimpit membuat masyarakat memaklumi wanita pekerja. Pemikiran - pemikiran reformispun turut membongkar paradigma dapur dan kasur. Wanita merambah semua bidang sosial budaya. Bekerja dimanapun kemampuan mereka memberi kesempatan untuk berkarya dan mencari nafkah.

Dengan kecepatan perkembangan ilmu dan teknologi, masyarakat perlahan menyadari betapa minimnya pengetahuan seorang anak berusia belasan tahun. Betapa luas dunia yang terbentang didepannya, dan betapa panjang jalan yang harus dilaluinya sampai ia mampu memaknai kedewasaan dalam hatinya.

Saat menonton tv tadi, tiba - tiba saja saya seperti ditarik kembali ke 15 tahun yang lalu.Saya menatap anak - anak perempuan saya, dan melafalkan doa didalam hati…untuk masa depan mereka…untuk kesempatan memilih …untuk kebahagiaan mereka.

Alasan apapun yang disampaikan pihak pro dan kontra tidak akan ada gunanya. Syekh punya pendapatnya sendiri. Ulfa (sang istri) juga telah memilih (atau dipilihkan oleh orang tuanya)jalannya sendiri. Jika Ulfa merasa bahagia dengan pilihannya, tidak ada seorangpun yang berhak menghalanginya. Jika untuk Ulfa menikah adalah salah satu jalan baginya mengembangkan diri, belajar untuk jadi pengusaha sukses, ataupun untuk menikmati kehidupan ekonomi yang mapan…itu adalah pilihannya.

Buat saya urusan masyarakat dengan Syekh Puji dan Ulfa sudah selesai, tapi buat wanita Indonesia, perjuangan memasuki babak baru.

Comments

16 comments
  1. Tajid Yakub
    October 28, 2008

    Meskipun agak berbau feminis, tapi tulisan ini enak dibaca, cukup memancing emosi namun meminta untuk tidak berdebat karena tidak ada gunanya, dan bahkan menghimbau sebuah perjuangan (optimis).

    Saya cuma ingin mengingatkan akan pentingnya sebuah niat, niat pelaku dalam kisah ini dan niat siapapun hanya dia dan tuhannya yang tau, sehingga penting untuk dipahami bahwa generalisasi nilai moral sebaiknya tidak dilakukan, tapi mengungkapkan pendapat tidak pernah salah, just don’t force it…

    Amin untuk menjadikan kisah ini sebagai momentum pendorong kita untuk bekerja dengan sehalal dan sebaik-baiknya supaya buah hati kita bisa memilih dengan leluasa.

    Leave a reply
  2. pakde
    October 29, 2008

    Siti Nurbaya versi baru? Inilah kehidupan, Menikah diusia muda, dimasa sekolah pula, semua pasti bilang “Koq nikah?” Masa depan itu luas..kariermu masih terbentang dimana-mana Dont try this At home. Please.! Mungkin sebagian memekik seperti itu.
    Boleh jadi ini adalah pukulan bagi kita atas kebebasan untuk memilih. Semoga kisah ini berdampak dan memberikan makna positif.

    pakde’s last blog post..DINNER with DUDA KEREN (baca; Makan Malamnya DUREN)

    Leave a reply
  3. Oemar Bakrie
    October 29, 2008

    Hihihi … korban tutup-nya Astro juga ya? sama dong … Memang “enek” juga lihat berita itu di tv, serasa kembali ke jaman jahiliyah. Tapi sebagaimana yg diingatkan di komentar no. 1 dia atas yg penting niat yg hanya diketahui ybs. dan Allah, siapa tahu niatnya “mulia” …

    Oemar Bakrie’s last blog post..21 tahun sumpah pemuda (dan pemudi)

    Leave a reply
  4. nadin
    October 30, 2008

    @pakde
    Cuma itu yang sebenarnya bisa kita harapkan pakde! Mempublikasikan cerita ini hari demi hari di media tv cuma akan membuat kisah mereka lebih terkenal dan jadi ingin ditiru orang.

    @oemar bakrie
    Yah…sayangnya niat ga bisa dilihat orang lain ya pak! Tapi kalau dipikir - pikir, niat mulia harusnya diupayakan dengan jalan mulia ya pak…(hihihi…mode sebel masih on!)

    nadin’s last blog post..Syekh Puji dan Wanita Indonesia

    Leave a reply
  5. Wahyu Rahardjo
    October 30, 2008

    Salam kenal. Semoga saya diijinkan urun wicara di blog (yang tampaknya menarik) ini. Saya setuju bahwa hidup memang masalah pilihan. Semua orang memilih apa yang dirasa terbaik (atau sepertinya terbaik) bagi hidupnya. Konsekuensi adalah soulmate dari setiap pilihan hidup. Positif atau negatif tentu tidak didapatkan dalam tiga hari ke depan. Seandainya bisa bahagia sepanjang waktu, semua orang pasti akan memilih untuk bisa seperti itu. Perihal Syekh dan Ulfa ini, jujur, membuat saya mengelus dada. Luar biasa. Bangsa ini selalu pintar memilih topik “wow magic” untuk dikontroversikan. Setiap orang berlomba untuk diperbincangkan dan tidak lagi malu dipergunjingkan.
    Bagaimana dengan perempuan Indonesia? Hmmm, semua golongan memang masih belajar dan berjuang. Kaum pria Indonesia masih belajar mengenali diri sendiri, termasuk gairah dan dorongan untuk jadi kaum dominan di bawah “perlindungan” kultur dan religi. Kaum wanita juga masih berjuang untuk bisa memiliki harga diri yang pantas dan proporsional. Kita memang terus masih harus belajar. Semoga selalu ada pencerahan di setiap sudut pikiran kita. Salam.

    Leave a reply
  6. Pradhana
    October 31, 2008

    Kasihan juga liatnya, yang pada akhirnya syekh puji *denger2 nih dari berita* bahwa akan menceraikan ulfa dan berharap proses hukum tidak dilanjutkan. Hhihi, tapi daripada mengikuti berita seperti ini, saya kok lebih tertarik mengikuti berita perkembangan election di US. Menurut saya pernikahan itu hak dari masing2 orang, kalo kedua orang yang bersangkutan tersebut menghendaki, apalagi didukung oleh keluarga *tanpa paksaan* apa salahnya ya.. Wah ujung-ujungnya dikembalikan pada peraturan dan perundang-undangan yang ada di negara ini. Menurut saya gak usah menghujat ato apapun itu, karena kita tidak tau apa yg sebenarnya terjadi disana, so let see aja..

    Leave a reply
  7. Lala
    October 31, 2008

    Hai, Mbak Nadin…

    Selama memang menikah bukan karena terpaksa,
    Selama memang menikah karena memiliki tujuan yang baik,
    saya sih tidak akan menggembar gemborkan issue macem-macem, seperti misalnya Feminis.

    Saya tidak tahu bagaimana perasaan Ulfa yang sesungguhnya.
    Bahkan saya tidak kenal siapa dia, bagaimana karakter dia.
    Jadi saya percaya, she did that, because she wanted to do that.

    Semoga berbahagia saja lah… ^_^

    Lala’s last blog post..I’m Getting Married…

    Leave a reply
  8. dyahsuminar
    November 1, 2008

    .
    Waduuh,berita pernikahan dini itu menjadi isu besar yang meresahkan diantara kami.
    karena kita di kota Jogja…sedang getol untuk menuju wajib belajar 12 tahun…SMA,,,gitu deh..lha kok malah anak kecil sudah dinikahkan…Perjuangan perempuan Indonesia masih sangat panjang…kita harus sekuat tenaga dan tanpa menyerah,kalau ingin posisi kita lebih mandiri secara utuh…Monggo bersama Ibu…kita harus berupaya keras menuju kemandirian dalam berbagai aspek…agar tidak jadi sasaran eksploitasi lingkungan.

    Leave a reply
  9. A-RI
    November 1, 2008

    Syekh Puji o syekh puji

    Leave a reply
  10. Michael Siregar
    November 2, 2008

    saya tetap saja tak habis pikir, kalau ada laki laki yang mau menikah atau bersetubuh dengan wanita dibawah enam belas tahun, karena usia inilah diperkirakan wanita bisa mengerti dan menikmati Sex itu sendiri.
    sebagai orang Indonesia yang sudah lama tinggal di luar negeri, saya sangat malu akan hal ini…semoga ini tidak ditiru oleh syekh puji syekh puji lainnya.

    Michael Siregar’s last blog post..I’m Sorry Consuella (Imbarni Boru Hita Dohot Boru Amerika #5)

    Leave a reply
  11. nh18
    November 3, 2008

    Saya tidak bisa berkomentar …
    Jujur saja … saya tidak begitu mengerti benar masalah ini …

    Yang jelas … berita perdagangan anak dibawah umur … itu lebih memprihatinkan sebetulnya

    Salam

    nh18’s last blog post..MAU JADI APA ?

    Leave a reply
  12. Nadin Asmarandjani
    November 3, 2008

    @Wahyu
    Salam Mas Wahyu! Lain ya kalau calon doktor yang bicara…he….setuju, tiap pilihan punya konsekuensi. Salah satunya adalah konsekuensi sikap masyarakat terhadap pilihan kita. Masyarakat kita juga sedang belajar…belajar menghargai perbedaan, belajar menerima pilihan, belajar menjadi masyarakat demokratis yang cerdas. Semoga harga yang harus dibayar dari proses belajar sungguh sesuai dengan hasil pembelajarannya nanti.

    @Pradhana
    Ia mas. Setelah mencapai klimaks beritanya, tiba2 saja keputusan Syekh untuk menceraikan Ulfa jadi antiklimaks yang mengejutkan saya. Sungguh tragis nasib Ulfa. Saya juga jadi lebih suka lihat film…tapi astro saya mati mas…hiks….huaaaa….hhhhaaaahhhh….(sebel mode on)

    Leave a reply
  13. Nadin Asmarandjani
    November 3, 2008

    @jeung lala
    Kalau dari perkembangan terakhir…hiks….ga sampai hati jeung mikirin Ulfa! Semoga Ulfa tetap dapat berbahagia!

    @Ibu Dyah
    Sasaran eksploitasi lingkungan…kalimat yang tepat menggambarkan nasib Ulfa. Semoga tidak ada Ulfa2 lain di Indonesia ya Bu!

    @A-RI
    Hikss…….

    @Michael
    Mudah2an cuma ada satu Syekh Puji di Indonesia Bang! he….

    @Om trainer
    Sangat sangat sangat memprihatinkan om! Lebih prihatin dari Rumah Sangat Sederhana Sekali! Mereka kan generasi penerus bangsa!

    Leave a reply
  14. bonar
    November 6, 2008

    salam kenal….
    senang nemu blog anda ini mbak…hehehehe…

    entah siapa yang harus disalahkan, tetapi saya melihat koq bombastis sekali yah pemberitaannya..?
    apakahi ini ada maksud tertntu atau memang murni untuk tujuan mulia, kalo emang tidak tendensius seharusnya berlaku utk semua lapisan masyarakat yah..artinya pihak2 yang kemarin terlibat menghalangi juga harus mau datang ke pelosok2 dan menyaksikan kalo memang masih banyak perempuan yg menikah di usia belia…

    akh tau deh…heehhe…

    salam.

    -bonar-
    http://sihotang407.wordpress.com

    Leave a reply
  15. Nadin Asmarandjani
    November 7, 2008

    akh…setujuh sekalih bang bonar! Media pers memang alat yang sangat ampuh untuk menimbulkan ke’heboh’an…bahkan ketika harganya adalah pengorbanan kebenaran atau pengorbanan pribadi - pribadi yang jadi pemberitaan!

    Leave a reply
  16. sonyssk
    November 29, 2008

    Faktor kebenaran dan keadilannya bergantung kepada pelakunya. Tapi sisi lain, peristiwa ini sudah menjadi “komoditas” yang banyak memberikan untung (profit) kepada berbagai pihak, karena dia sudah menjadi NEWS. Jadi sekarang ini apapun dapat diolah asal mempunyai prospek layak jual… dan memberikan untung.

    sonyssk’s last blog post..Kenangan Masa Kecil

    Leave a reply

Leave a Comment