Pernah ga ngebayangin gimana rasanya jadi sangsak tinju? Kalau dipikirin secara manusiawi mungkin susah yah… tapi kondisi itu ada, dan bahkan sangat mungkin terjadi pada orang - orang yang tidak bisa atau tidak tau cara mengekspresikan kemarahan mereka. Kalau kamu berada diantara pilihan - pilihan yang tidak bisa kamu tolak dan tidak bisa kamu hindari, atau ketika kamu harus ngambil keputusan pilihannya berada diwilayah jadi egois atau dibenci orang - orang yang paling kamu sayangin…nah…kamu hampir tau rasanya jadi sangsak tinju. Begitu kamu memilih untuk diam dan bersedia kena getah atas apapun yang orang lain lakukan (bahkan ketika ga ada untungnya sama sekali buat kamu)…welcome to the club!
Seringkali solusinya bisa berupa komunikasi. Cuma sayangnya ada orang - orang yang kemampuan komunikasinya baik verbal maupun non verbal sangat terbatas. Biasanya mereka dimasukan kedalam kategori orang bego oleh kebanyakan orang yang mampu berkomunikasi dengan baik. Tapi sebenarnya ‘bego’ ga selalu menggambarkan karakter mereka secara komprehensif. Ada kalanya tekanan mental karena keharusan menyimpan suatu hal yang tidak menyenangkan bisa jadi sangat membatasi kemampuan komunikasi personal kelompok ini. Atau mungkin juga kondisi dimana mereka terperangkap dalam suatu keadaan dimana ‘maju kena mundur kena, kekanan jurang kekiri ngarai’ sehingga kemampuan komunikasinya seperti diblokir oleh perasaan serba salah atau takut salah.
Terlepas dari bisa ataupun tidak mengkomunikasikan pikiran, bagi mereka yang memiliki perasaan seperti sangsak tinju pastinya tidak menyenangkan. Ditinju tanpa alasan, dan kalaupun ada alasannya, tetap saja sakit rasanya. Saya sering bertanya - tanya mengenai hal ini…apakah lebih baik dibenci orang (karena kita mengekspresikan kemarahan kita) atau dibenci diri sendiri (karena kita diam, dan menerima semua kemarahan orang).
Saya masih ingat masa - masa dimana saya tidak punya kebencian… tentu saja, saat itu saya juga belum mengerti cinta. Mungkin pertanyaan lebih lanjutnya adalah apakah lebih baik tidak usah mengerti cinta daripada harus pula mengerti tentang kebencian. Masa - masa itu berlalu cepat. terlalu cepat. Saat ini rasanya hidup dipenuhi kebencian …meskipun juga dipenuhi cinta.
Benci karena cinta. Cinta untuk membenci.
Beruntunglah sangsak tinju karena dia tidak punya jiwa. Kalau punya, mungkin sudah terbelah - belah. Hidup antara cinta dan benci…tapi tidak bisa memilih. Kamu yang punya masalah seperti ini, sebaiknya sangat berhati - hati dengan apa yang kamu baca, kamu tonton atau kamu dengar. Bukan tidak mungkin yang kamu baca/tonton/dengar hanya akan menambah gundah gulana, mengeksploitasi dualisme perasaan kamu, yang akhirnya bikin jiwa kamu makin hancur berkeping - keping.
Saya seringkali lari ke buku yang bercerita tentang kedamaian, cinta, romantisme, keindahan…pokoknya buku dengan karakter - karakter yang murni pemikiran dan perasaannya, penuh integritas, punya kendali atas hidupnya, dan yang pasti berakhir dengan bahagia. Cerita - cerita demikian memberikan harapan buat saya. Karakter yang berbicara apa adanya, penuh dengan kasih sayang dan jauh dari kebencian ataupun kemarahan, karakter seperti ini membuat pikiran saya yang ribut menjadi tenang. Lucu memang, karena saya juga baru sadar. Betapa sedikit orang - orang dengan karakter demikian didunia saya yang kecil ini.
Obat paling manjur adalah wajah malaikat - malaikat kecil saya. Orang - orang yang paling mencintai kamu biasanya jadi alasan kuat yang membuat kamu bertahan. Berdoalah untuk dapat terus demikian. Mereka ini orang - orang yang mencintai tanpa syarat. Bahkan dalam banyak kasus, mereka mungkin pernah bahkan sering jadi sangsak tinjumu.
Yah…semoga Tuhan memberikan banyak kesabaran dan kebijaksanaan bagi para sangsak tinju. Paling tidak untuk tabah menjalani perannya di dunia ini.


December 6, 2008
Jadi sangsak tinju, memang sangat menyakitkan. Kita dijadikan jadi pusat kemarahan (bos, teman…) padahal tidak jelas juntrungannya. Lalu? kita akan tetap “as a part of the system?”, pilihan yang sangat sulit !!. Namun, apapun pilihan yang kita ambil, harus kita syukuri. sungguh hebat, mbak Nadin, disamping bercengkrama dengan malaikat kecilnya, juga mendinginkan temperatur dengan kegiatan (dalam hal ini membaca buku yang berkarakter, kedamaian dan cinta, hehehe..sayapun melakukan hal yang sama). Maka tidak ada penyesalan..hanya kedamaian.
Semoga keluarga dan sekelilingnya tidak menjadi sangsak tinju sebagai akibat pusat kemarahan yang tidak jelas juntrungannya itu, karena jelas, tidak ada hubungannya dengan mereka. semogaaaaa….
Singal’s last blog post..Kesan!
December 6, 2008
dear Bang Singal,
Benar sekali…yang penting adalah doa agar jangan sampai kita ‘tergoda’ menjadikan orang - orang terkasih disekeliling kita sebagai sangsak tinju pula! Menerima cercaan adalah hal yang sulit, tetapi lebih sulit lagi membatasi diri untuk tidak mencerca orang lain hanya karena kita punya kuasa untuk melakukannya.