Bahwa ingatan saya, secara emosional, terbatas, dan bahwa saya cenderung melupakan hal - hal yang saya anggap kurang penting, barulah saya sadari setelah saya menikah. Dampak keterbatasan ingatan sungguh sangat besar buat saya. Rasanya sudah ratusan kali (atau ribuan?) saya mengalami tekanan yang cukup besar ketika menghadapi kenyataan bahwa apa yang saya ingat berbeda 90 sampai 180 derajat dengan ingatan suami saya.
90 derajat, karena terkadang saya ingat peristiwanya, tapi tidak ingat detailnya…atau kebalikannya, ingat detailnya, tapi tidak ingat sama sekali kapan dan dimana peristiwanya berlangsung. 180 derajat karena saya juga pernah mengalami tidak ingat sama sekali peristiwa apa yang dibicarakan oleh suami saya…(horor mode on)!!!
Bukan hal mudah untuk mengakui hal seperti ini terjadi pada diri kita, apalagi jika peristiwa yang saya maksudkan hanyalah peristiwa - peristiwa kecil seperti permintaan untuk diambilkan sebuah barang, perintah untuk melaksanakan suatu keputusan yang sudah disepakati bersama, atau bahkan hasil sebuah pembicaraan semalam suntuk yang kemudian tidak saya ingat lagi dikeesokan harinya (setelah tidur lelap karena lelah tentunya).
Yang lebih lucu lagi adalah fase dimana saya menolak keras tuduhan bahwa saya melupakan hal - hal tersebut karena menurut saya hal - hal tersebut tidak cukup penting atau pada dasarnya tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Saya marah. Jika saya marah terhadap suami saya atas tuduhannya mungkin lebih baik rasanya. Masalahnya saya marah sekali pada diri sendiri karena tidak mampu memberikan alibi atas tuduhan tersebut. Belum lagi frustasi karena dalam banyak kondisi, saya sudah lupa tentang apa yang sebenarnya saya lupakan sewaktu kita membahasnya kembali…;p. Saya sadar bahwa saya salah. Saya tau saya salah dan harus berubah, dan saya mau berubah. Tetapi jika kejadian serupa terjadi lagi, diluar kehendak saya…seharusnya saya dimaafkan kan…???
Saat saya menyerah untuk bertahan dan menyerang sekaligus (yang terakhir sangat jarang bisa saya lakukan dengan kondisi ingatan saya), dan mencoba berpikir dengan hati yang jernih, saya bisa melihat kebenaran dalam beberapa tuduhan pada saya. tunggu dulu…berpikir dengan hati yang jernih…bukan dengan otak? Buat saya, ya, dengan hati yang jernih. Seringkali saya mencoba berpikir, tetapi bersama hati yang berkecamuk dengan kesedihan, kemarahan atau keputus asaan, dan tidak menghasilkan apapun kecuali perintah untuk mempertahankan diri dengan mengambil keputusan - keputusan spontan. Keputusan yang tidak logis, dan menjerumuskan saya kedalam kesalahan yang sama dikemudian hari: melupakannya.
Saat berpikir dengan hati yang jernih, hati yang menyadari bahwa saya tidak dapat menyelesaikan masalah saya sendirian, dan bahwa mungkin saja apa yang dikatakan lawan bicara saya dapat menyalakan lilin - lilin kecil disepanjang jalan menuju pintu keluar dari masalah ini, saya memiliki kesempatan untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Terkadang saya mampu melihatnya dari sudut pandang suami saya, tetapi terkadang dari sudut pandang yang sungguh - sungguh berbeda. Misalnya saja pandangan bahwa saya seharusnya memiliki kuasa atas ingatan saya, dan bukan sebaliknya. Jika saya harus menyerah dan menerima semua kesalahan karena saya tidak mampu mengingat, jelas saya harus berubah. Saya harus berusaha untuk mulai mengingat…dan akhirnya harus sungguh - sungguh ingat.
Saya melihat sekeliling saya, dan menyadari ada wanita yang mengalami ‘keterbatasan ingatan’ seperti saya, namun tidak mengalami kendala karena suami mereka cukup toleran, atau tidak merasa bahwa hal ‘lupa’ merupakan suatu hal yang perlu dibahas panjang lebar. Namun semakin saya memikirkan hal ini, semakin saya menyadari bahwa ada kebenaran dibalik tuduhan pada saya, dan bahwa saya harus melihatnya dengan serius. Teori mekanisme ego - Sigmun Freud, mungkin teraplikasi ketika muncul peristiwa yang menyiratkan kemungkinan penolakan alam bawah sadar saya, misalnya saja disaat dengan kesadaran (dan keyakinan penuh) bahwa saya setuju pada suatu hal, setelah beberapa saat saya dengan sangat mudah melupakan hal yang telah saya setujui tersebut.
Bahwa hal - hal terkait dengan pekerjaan menempati prioritas penting di alam bawah sadar saya, bahkan melebihi hal - hal yang terkait dengan kepentingan suami dan anak - anak saya, menyebabkan saya mampu mengingat detail pekerjaan yang harus saya lakukan sampai minggu depan, tapi tidak ingat bahwa suami saya minta dibuatkan kopi 2 jam sebelumnya, atau bahwa salah satu obat anak saya adalah antibiotik, dan karenanya harus dihabiskan.
Saya harus berubah. Dan suami saya meringkaskan apa yang harus saya lakukan pertama dengan tepat: Membuat prioritas dalam hidup. Terdengar mudah, terdengar klise…percaya atau tidak, itu mungkin salah satu langkah terbesar yang pernah (dan harus) saya ambil!


November 29, 2008
nice artikel…
thanks ya buat infonya…
sangat bermanfaat…
obat anak’s last blog post..Waspada Susu asal AS Mengandung Melamin