Membuat Angan
By Nadin Asmarandjani | 3 CommentsLeave a Comment
Last updated: Friday, October 10, 2008 | 449 Views

a view from home

Ketika banyak orang (asuransi, multilevel marketing, psikolog, buku - buku pengembangan pribadi) membicarakan kekuatan pikiran dan harapan dalam upaya membantu kita mengambil kontrol atas kehidupan pribadi kita, salah satu langkah awal yang biasanya diminta dari kita adalah untuk menuliskan daftar angan - angan kita pada selembar kertas.

Bagi saya ini adalah suatu hal yang sangat menyebalkan. Menyebalkan, karena saya bukan tipe orang yang punya keyakinan bahwa hal ini akan sungguh berhasil. Menyebalkan karena angan - angan saya jauh terlalu banyak untuk dituliskan dalam sepotong kertas, bahkan ketika tulisannya sudah seukuran arial, 8. Menyebalkan karena saya kemudian harus berpikir, memilih, menentukan, dan menulis.

Saat A, inisial seorang teman yang berhasil membuat saya menjadi anggota dalam sebuah bisnis multi level marketing, memaksa saya untuk menuliskan angan - angan saya dikertas, saya mengalami semua hal yang telah saya tuliskan diatas. Saya berhasil menuliskan beberapa  angan - angan ’standar’ seperti memiliki rumah pribadi, kendaraan pribadi, jalan - jalan keluar negeri…dan beberapa lainnya. Namun butuh waktu berminggu - minggu sesudahnya untuk menyadari, seharusnya, bukan apa yang sekedar saya bayangkan saat itu saja yang saya tuliskan. Seharusnya saya terus menerus membuat angan. Setiap hari, setiap waktu…sebanyak saya memanjatkan doa, dan sebanyak saya bersyukur atas apa yang telah saya miliki, sebanyak itu pula saya harus belajar membuat angan.

Saya masih kesulitan membuat angan. Menjalani prosesnya seakan memaksa saya berhenti berjalan di kenyataan dan melompat ke sungai khayalan. Bagaimana kalau ini semua hanya mengalir tanpa henti ke riam besar dimana semua angan akhirnya hancur pada cadas takdir? Saya merasa nyaman dengan dunia yang saya lihat, saya rasakan, saya dengar…meskipun angka - angka pada layar atm tidak selalu cukup, dan dinding - dinding rumah meneriakan pembicaraan saya ke dinding - dinding tetangga didepan, disamping, dibelakang, ataupun rekening tagihan yang tiap bulan mampir dimeja kerja…

Saya masih kesulitan membuat angan. Tapi bukan berarti saya tidak mau. Saya  akan terus mencoba. Dan saya teringat bahwa seorang Mario Teguh pernah berkata;

Tugas kita bukan untuk memastikan keberhasilan.
Tugas kita hanya untuk memastikan bahwa kita mencoba, karena semua kesempatan untuk menang ada dalam upaya.
Saya mau mulai membuat angan…
besok saya akan buat kategori baru diblog ini…
;p, yang menuju kebaikan tidak boleh ditunda dibuat bukan?

Comments

3 comments
  1. Lala Purwono
    October 27, 2008

    Mbak Nadin…

    Keep on dreaming.
    Keep on trying to achieve it.
    Seperti yang disebut Mario Teguh, kita hanya perlu berusaha. Masalah nanti terwujud atau tidak, paling tidak kita telah melakukan sesuatu untuk meraih apa yang kita mau.

    Begitu kan, Mbak? :D

    Leave a reply
  2. Nadin Asmarandjani
    October 27, 2008

    Settuujuuuu mba!
    Tapi kalu bisa pengennya sih tercapai…kekekkkkekekk……

    Leave a reply
  3. sonyssk
    December 7, 2008

    Kalau menurutku yang perlu kamu susun adalah :
    1. Apa saja yang pernah kau pinta melalui doa kepada Tuhan hingga hari ini.
    2. Buat daftar apa saja permintaanmu (dengan doa dan usaha) itu sudah berhasil/terwujud, tolong sampaikan ucapan terima kasih/bersyukur kepada bapa di Surga.
    3.Setiap kamu punya rencana/program, tolong awali dengan doa, dan jangan berhenti menyertakannya didalam doamu, sampai usaha/program itu berhasil. Ketika itu tercapai, bersyukur dan berterimakasihlah kepadaNya.
    4.Doakan juga aku (kalau kamu teringat) ya. He..he..he…
    5. Tahun 2009 kita evaluasi lagi nanti. Merry Christmass…(Eh Novena minggu kedua nih).

    sonyssk’s last blog post..Masa Kecilku di Desa

    Leave a reply

Leave a Comment