Laskar Pelangi
By Nadin Asmarandjani | 4 CommentsLeave a Comment
Last updated: Tuesday, October 7, 2008 | 582 Views

Dalam waktu singkat judul buku buah tangan Andrea Hirata ini sudah begitu terkenal, khususnya di Indonesia. Artikel mengenai buku dan film yang baru saja dirilis dengan judul yang sama itu secara komprehensif sudah dapat dilihat di wikipedia. Namun jika anda ingin melihat buku ini dari sudut pandang yang berbeda, mungkin ulasan pada  qyu.blogspot.com dapat menjadi salah satu titik tolak. Seringkali kita terpaku pada isi buku yang begitu mengikat atau tampilan gambar dalam film yang begitu memukau sehingga hal - hal kecil yang sebenarnya memegang peranan penting dalam penyelesaian logika cerita secara keseluruhan, tak lagi diperhatikan.

Dalam film karya sutradara Riri Reza, frame waktu kembali menjadi detail yang menurut saya belum optimal dieksplorasi…sekilas mengingatkan saya pada film janji joni karya Joko Anwar.  Sinematografi yang menampilkan pemandangan indah pulau Belitung mampu berbicara banyak tentang kenangan yang dimiliki para tokoh..namun saya menyayangkan pengulangan gambar adegan di bebatuan besar tempat para anggota laskar sedang berlari ataupun scene dimana para tokoh sedang memandangi pelangi dibagian awal dan akhir film. Satu hal lain yang cukup mengganggu saya adalah ’selipan’ lagu bunga seroja yang dinyanyikan tokoh Mahar ditengah - tengah film, bukan lagunya yang mengganggu, tetapi tampilan adegan para laskar yang tiba -tiba menjadi backing vokal serta gerak bingung tokoh Ikal dengan latar padang ilalang yang diulang - ulang yang membuat saya tidak jadi larut dalam alunan lagu dengan lirik yang indah itu.

Upaya keras mengepak begitu banyak detail cerita dari buku setebal 529 halaman menjadi film berdurasi 2 jam memang patut dihargai. Tidaklah mudah mensarikan dan menenun kembali esensi cerita yang kekuatannya terletak pada detail karakter dan latar belakang para tokohnya. Film Harry Potter yang dana pembuatannya sedemikian besarpun tidak mampu mengatasi kendala waktu tayang yang terbatas dan harus puas dengan improvisasi cerita disana sini demi mengejar imaji cerita yang komprehensif. Mengutip semboyan teman saya Kresna; banyak berharap, banyak kecewa, saya akan tetap terus berharap banyak pada para sineas muda Indonesia untuk menghasilkan film - film bermutu.. tidak saja dari esensi ceritanya, tapi juga bermutu dalam setiap aspek filmnya ; scriptnya, soundtracknya, teknisnya, teknologinya…semuanya!

Comments

4 comments
  1. Tajid Yakub
    October 7, 2008

    Yang pasti filmnya lebih bagus dari In The Name of The King!, katanya bukunya lebih bagus lagi :)

    Leave a reply
  2. Nadin Asmarandjani
    October 8, 2008

    Hi….. No doubt about it…ITNoTK is purely a spontaneous mistake! Itulah akibatnya kalau nonton film hanya karena thriller dan ekspektasi terlalu besar pada aktornya ( Jason Statham ), hi….

    Leave a reply
  3. asf
    October 24, 2008

    Sepakat!
    Soal penari latar bunga seroja itu membuat bingung dan saya terganggu. Padahal ingin ikut nyanyi juga, malah senyum-senyum lihat gerakan penari latar itu :)

    Leave a reply
  4. Nadin Asmarandjani
    October 24, 2008

    Terima kasih Kang untuk komentarnya yang ga galak….
    Saya jadi semangat lagi buat nulis! Nuwun!

    Leave a reply

Leave a Comment